Kamis, 26 Januari 2012

Pengertian Bimbingan Psikologi; Bimbingan, Konseling dan Psikoterapi

Oleh: Nashruddin Hilmi, M.Pd.I.
Dalam dunia psikologi, dikenal istilah "bimbingan", "konseling" dan "psikoterapi" sebagai bentuk aktifitas pemberian bantuan psikologis kepada seorang individu yang memerlukannya. Dalam prakteknya, kata "bimbingan" sering dikaitkan dengan istilah "konseling". Keduanya bisa merupakan satu kesatuan istilah yang biasanya dilaksanakan di sekolah-sekolah, yaitu "Bimbingan dan Konseling (BK)". Meski sebenarnya bisa pula diterapkan di bidang-bidang kehidupan lainnya, seperti kedokteran, perusahaan dan industri, dan sebagainya.
Sementara istilah "konseling" sendiri tidak bisa dilepaskan dengan istilah "psikoterapi". Jika dilihat eksistensinya, konseling merupakan salah satu bantuan profesional yang sejajar dengan, misalnya, psikiatris, psikoterapi, kedokteran, dan penyuluhan sosial. Dilihat dari kedudukannya dalam proses keseluruhan bimbingan, guidance, konseling merupakan bagian integral, atau teknik andalan, bimbingan, yang lazim digabungkan menjadi "Bimbingan dan Konseling". Dengan demikian, antara bimbingan, konseling, dan psikoterapi memiliki keterkaitan yang sangat erat sebagai bagian dari aktifitas pemberian bantuan psikologis kepada seorang klien (individu). Sehingga dalam tesis ini, penggunaan istilah "Bimbingan Psikologi" adalah untuk mencakup ketiga istilah tersebut.

a) Bimbingan
Menurut Arthur J. Jones (1970), bimbingan adalah proses dimana pembimbing membantu si terbimbing sehingga terbimbing mampu membuat pilihan-pilihan, menyesuaikan diri, dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Di sini, pembimbing membantu individu agar dapat mengatasi masalah-masalah dengan memberikan alternatif yang tepat sesuai dengan keadaan dirinya; membantu memahami permasalahan dan sanggup menerimanya sebagai suatu kenyataan; membantu membukakan jalan yang bisa jadi tidak disadari oleh si terbimbing bahwa ada jalan yang bisa diambil; dan mensugesti si terbimbing agar memiliki kemauan menuju jalan pemecahan, yang bisa jadi karena tekanan emosional, kelelahan, stres, sehingga kemampuan dan kemauannya menjadi hilang. Sementara Peters dan Shertzer (1974) mengartikan, bahwa bimbingan merupakan proses bantuan terhadap individu agar ia memahami dirinya dan dunianya, sehingga dengan demikian ia dapat memanfaatkan potensi-potensinya.
Bimbingan merupakan upaya yang bersifat preventif, dapat dilakukan secara individual maupun kelompok, dan bisa dilakukan oleh para guru, pemimpin, ketua-ketua organisasi, dan sebagainya. Yang penting para pembimbing tersebut memiliki pengetahuan tentang psikologi, sosiologi, budaya, dan berbagai teknik bimbingan seperti dinamika kelompok, sosio-drama, teknik wawancara, dan sikap-sikap yang menghargai, ramah jujur, dan terbuka. Bimbingan bisa dilakukan oleh siapa saja yang berminat, asal mendapat pelatihan terlebih dahulu. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa bimbingan merupakan salah satu aktifitas bantuan psikologis yang masih bersifat umum dan memecahkan masalah-masalah kejiwaan individu yang belum bersifat serius dan mendalam.

b) Konseling
Konseling, kadang disebut penyuluhan, adalah suatu bentuk bantuan. Merupakan suatu proses pelayanan yang melibatkan kemampuan profesional pada pemberi layanan. Ia sekurang-kurangnya melibatkan pula orang kedua, penerima layanan, yaitu orang yang sebelumnya merasa ataupun nyata-nyata tidak dapat berbuat banyak dan setelah mendapat layanan menjadi dapat melakukan sesuatu. Para ahli mendefinisikan konseling sebagai suatu bantuan seseorang kepada orang lain. Adapun tujuannya, menurut English & English (1958), membantu orang lain agar memahami masalah dan apat memecahkannya dalam rangka penyesuaian diri. Sedang menurut Glen E. Smith (1955), adalah agar individu tersebut bisa melakukan pemilihan, perencanaan dan penyesuaian diri sesuai dengan kebutuhan. Sementara Milton E. Hahn (1955), adalah agar individu tersebut mampu memecahkan masalah yang dihadapinya.
Menurut Willis, konseling adalah upaya bantuan yang diberikan seorang pembimbing yang terlatih dan berpengalaman, terhadap individu-individu yang membutuhkannya, agar berkembang potensinya secara optimal, mampu mengatasi masalahnya, dan mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang selalu berubah. Menurutnya, dalam era global dan pembangunan saat ini, konseling bukan saja bersifat klinis-psikologis, tapi harus lebih menekankan pada pengembangan potensi individu yang terkandung didalam dirinya, baik intelektual, afektif, sosial, emosional, dan religius; menjadikannya sebagai individu yang akan berkembang dengan nuansa yang lebih bermakna, harmonis, sosial, dan bermanfaat. Dengan demikian, ada perubahan konsepsional antara pengertian konseling lama dengan konseling baru, dimana konseling bukan saja bersifat klinis, tapi juga bersifat preventif dan pengembangan individu.
Sementara Mohamad Surya, menyimpulkan beberapa prinsip dalam pengertian konseling, yaitu:
1. Konseling merupakan alat yang paling penting dalam keseluruhan program bimbingan.
2. Dalam konseling terlibat adanya pertalian dua orang individu yaitu konselor dan konseli, dimana konselor membantu konseli melalui serangkaian wawancara dalam serangkaian pertemuan.
3. Wawancara merupakan alat utama dalam keseluruhan kegiatan konseling.
4. Tujuan yang ingin dicapai dalam konseling adalah agar konseli:
a. memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya.
b. mengarahkan dirinya sesuai dengan potensi yang dimilikinya ke arah tingkat perkembangan yang optimal.
c. mampu memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya.
d. mempunyai wawasan yang lebih realistis serta penerimaan yang obyektif tentang dirinya.
e. memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya dan dapat menyesuaikan diri secara lebih efektif baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungan.
f. mencapai taraf aktualisasi diri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
g. terhindar dari gejala-gejala kecemasan dan salah suai (maladjustment).
5. Konseling merupakan kegiatan profesional, artinya dilaksanakan oleh konselor yang telah memiliki kualifikasi profesional dalam pengetahuan, ketrampilan, pengalaman dan kualitas pribadinya.
6. Konseling merupakan suatu proses belajar yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fundamental dalam diri konseli terutama perubahan dalam sikap dan tindakan.
7. Tanggung jawab utama dalam pengambilan keputusan berada pada tangan konseli, dengan bantuan konselor.
8. Konseling lebih menyangkut masalah sikap dari pada tindakan.
9. Konseling lebih berkenaan dengan penghayatan emosional dari pada maslaah intelektual.
10. Konseling berlangsung dalam suatu situasi pertemuan yang sedemikian rupa.
Dari uraian tersebut, konseling memiliki fungsi yang sangat luas, bukan saja bersifat klinis, membantu klien mengatasi permasalahan yang dihadapi, tapi juga memberikan bantuan klien menjadi individu yang berkembang secara optimal.
Bila dibandingkan dengan bimbingan, konseling lebih membutuhkan landasan operasional bidang psikologi yang lebih mendalam. Namun dalam perkembangan selanjutnya, antara bimbingan dan konseling, sebagaimana Sofyan S. Willis yang pada mulanya menguraikan pengertian bimbingan dan konseling secara terpisah, menjadikannya sebagai satu kesatuan istilah, yaitu bimbingan dan konseling.
Perkembangan pemahaman konseling di atas sejalan dengan perkembangan konseling itu sendiri, dimana ruang lingkup konseling juga semakin luas, terlebih jika antara bimbingan dan konseling menjadi satu kesatuan istilah dan kegiatan. Bimbingan dan Konseling memiliki ruang lingkup yang sangat luas, yaitu: bidang vokasional (pekerjaan dan jabatan); bidang pendidikan; bidang kesehatan (psikoterapis, psikoanalitis, dan klinis); dan bidang keagamaan. Dengan demikian, bimbingan dan konseling memiliki peran yang penting dalam segenap bidang kehidupan saat ini.
Adapun tujua dari konseling, Prof. Rosjidan menyatakan adanya tiga kategori yang bisa dicatat dalam hubungannya dengan tujuan-tujuan sebuah konseling. Tujuan khusus ini meliputi:
1) Merubah tingkah laku yang terganggu
2) Mempelajari tingkah laku yang terganggu, dan
3) Mencegah problem-problem .
Dalam pelaksanaannya, secara umum, teknik konseling meliputi: Penggunaan hubungan intim (rapport); Memperbaiki pemahaman diri; Pemberian nasehat dan perencanaan program kegiatan; dan Menunjukkan kepada petugas lain atau reeral bila dirasa tidak mampu menangani masalah klien .
Sedangkan menurut Willis, teknik konseling meliputi: 1) Perilaku attending; mencakup kontak mata, bahasa badan, dan bahasa lisan.2) Empati; merasakan apa yang dirasakan klien. 3) Refleksi; memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan, pikiran dan pengalaman klie sebagai hasil pengamatan. 4) Eksplorasi; menggali perasaan, pengalaman, dan pikiran klien. 5) Menangkap pesan utama tentang perasaan, pengalaman, atau pikiran klien dan disampaikan kembali kepada klien. 6) Bertanya untuk membuka percakapan 7) Bertanya tertutup melalui sebuah pernyataan yang membutuhkan tanggapan. 8) Dorongan minimal; upaya konselor secara halus agar klien tetap terlibat dalam hubungan yang komunikatif. 9) Interpretasi perasaan, pengalaman, atau pikira klien berdasarkan teori-teori yang ada. 10) Mengarahkan agar klien tetap dalam situasi dan hubungan komunikasi yang ideal. 11) Menyimpulkan sementara secara periodik agar tahapan-tahapan bisa berkesinambungan. 12) Memimpin arah pembicaraan 13) Fokus pada permasalahan. 14) Konfrontasi; kemampuan konselor untuk bisa mengungkapkan adanya inkonsistensi dalam diri klien. 15) Menjernihkan ucapan klien yang samar-samar. 16) Memudahkan berkomunikasi dan mengungkapkan perasaan dengan baik. 17) Diam sebagai fariasi komunikasi guna menumbuhkan pemusatan perhatian dan penekanan. 18) Mengambil inisiatif untuk bisa membuka, mencairkan, mendorong terciptanya komunikasi yang mandeg. 19) Memberi nasehat dengan mempertimbangkan aspek kemandirian klien 20) Pemberian informasi kemandirian klien untuk mencari informasi sendiri. 21) Merencanakan dengan cara membantu klien menyusun program untuk action. 22) Membantu klien menyimpulkan hasil sebuah pertemuan.

c) Psikoterapi
Secara terminologis psikoterapi berasal dari kata psiko dan terapi. Psiko artinya kejiwaan atau mental dan terapi adalah penyembuhan atau usada. Sedangkan pengertian umum psikoterapi adalah proses formal interaksi antara dua pihak atau lebih. Yang satu adalah profesional penolong dan yang lain adalah "petolong" (orang yang ditolong), interaksi ini menuju pada perubahan rasa, pikir, perilaku, kebiasaa yang ditimbulkan dengan adanya tindakan profesional penolong dengan latar belakang ilmu perilaku dan teknik-teknik usada yang dikembangkannya. Kegiatan psikoterapi ini harus dilandasi oleh data yang ditemukan selama proses wawancara atau interaksi . Dari definisi ini bisa diambil kesimpulan bahwa dalam psikoterapi dibutuhkan adanya profesionalisme serta tindakan-tindakan yang terprogram, formal serta dengan data-data yang lebih akurat dan teliti.
Adapun tujuan psikoterapi adalah:
1) Memperkuat motivasi untuk melakukan hal-hal yang benar.
2) Mengurangi tekanan emosi melalui kesempatan untuk mengekspresikan perasaan yang mendalam.
3) Membantu klien mengembangkan potensinya.
4) Mengubah kebiasaan.
5) Mengubah struktur kognitif individu.
6) Meningkatkan pengetahuan dan kapasitas untuk mengambil keputusan dengan tepat.
7) meningkatkan pengetahuan diri atau insight.
8) Meningkatkan hubungan antar pribadi.
9) Mengubah lingkungan sosial individu.
10) Mengubah proses somatik supaya mengurangi rasa sakit dan meningkatkan kesadaran tubuh.
11) Mengubah status kesadaran untuk mengembangkan kesadaran, kontrol, dan kreatifitas diri .
Dengan demikian, tujuan psikoterapi jauh lebih spesifik, menyangkut permasalahan psikologis yang lebih mendalam dan lebih bersifat klinis-psikologis. Mengatasi gangguan mental yang telah mengganggu perilaku dan struktur fungsi dan organisasi fisik. Oleh karena itu, teknik-teknik psikoterapi lebih spesfik dan fokus pada pembedahan psikologis.

2. Bimbingan Konseling dan Psikoterapi; Persamaan dan Perbedaannya
Menurut Andi Mappiare, pada dasarnya tujuan-tujuan konseling dan psikoterapi adalah sama, yaitu eksplorasi-diri, pemahaman-diri, dan perubahan tindakan atau perilaku. Keduanya, lazim pula mencoba menghilangkan tingkah-laku merusak diri (self-defeating) pada klien. Baik psikoterapi maupun konseling memberikan penekanan pentingnya perkembangan dalam pembuatan keputusan dan ketrampilan dalam pembuatan rencana oleh klien. Pentingnya saling-hubungan antara klien dan psikoterapis ataupun konselor disepakati sebagai suatu bagian integral dalam proses psikoterapi maupun konseling. Jadi, inti dari konseling dan psikoterapi adalah bantuan kepada klien melalui hubungan yang bersifat positif dan membangun.
Sementara, meskipun Prawitasari membedakan antara konseling dan psikoterapi dalam masalah waktu, namun menurutnya, keduanya bisa dilakukan dalam waktu singkat. Sedangkan menurut Carl. R. Rogers, antara konseling dan psikoterapi pada hakekat dan tujuannya adalah sama. Perbedaannya hanya terletak pada intensitas bantuan yang perlu diberikan. Pada tingkat terakhir dari keduanya juga akan bertemu dalam proses konseling intensif karena pada tingkat ini menggunakan pendekatan client-centered yang bersifat non-direktif, yang menjadi metode pokok dari psikoterapi. Dengan demikian, sebenarnya letak dari posisi keduanya, dimana psikoterapi merupakan kelanjutan dari konseling.
Senada dengan hal tersebut, Corsini (1989), membedakannya bukan secara kualitatif, tetapi sebagai perbedaan secara kuantitatif. Keduanya dapat terjadi secara bersamaan, bahkan diantara keduanya bisa tidak ada perbedaan dalam waktu pelaksanaannya. Hal ini hanya tergantung pada proses interaksi dan tingkat kepercayaan yag harus dibina dalam interaksi. Perbedaan di sini adalah hanya dalam hal jumlah intervensi yang dilakukan saja. Lebih jelas perbedaan ini adalah sebagaimana tabel berikut :
Proses Konseling Psikoterapi
Mendengarkan 20 60
Menanyakan 15 10
Mengevaluasi 5 5
Menginterpretasikan 1 3
Mendukung 5 10
Menjelaskan 15 5
Memberitahu 20 3
Menyarankan 10 3
Menyuruh 9 1

Dilihat dari problem-problemnya, Rosjidan membedakan bahwa konseling menyangkut hal-hal seperti: reality-oriented, situasional, lingkungan, spesifik, nonembeded dan kesadaran. Sedangkan psikoterapi menyangkut interpersonal, mendalam, umum, ganguan kepribadian, embeded dan unconseious. Mowrer membedakan bahwa konseling bertujuan membantu seeorang membebaskan diri dari konflik-konflik yang disadari. Sedangkan psikoterapi menyangkut konflik-konflik unconseious dan kecemasan neurotik. Tyler membedakannya sebagai berikut: konseling berkaitan dengan pendidikan, pekerjaan dan pilihan-pilihan lain, sedang psikoterapi menyangkut sikap, perasaa dan emosi. Namun pada kenyataan tidaklah mudah untuk membedakan antara problem situasional dan environmental, antara reality problem dengan problem kerpibadian, antara kecemasan normal dan kecemasan neurotik. Oleh karena pembedaan antara konseling dan psikoterapi memiliki banyak kelemahan. Begitu sukarnya melakukan pembedaan sehingga para ahli mengambil jalan tengah dengan menegaskan bahwa antara konseling dan psikoterapi merupakan suatu continumn .
Andi Mappaire, membedakan konseling dan psikoterapi sebagai berikut:
1. Koseling dan psikoterapi dapat dipandang berbeda lingkup pengertian antara keduanya. Istilah "psikoterapi" mengandung arti ganda. Pada satu segi, ia menunjukkan sesuatu yang jelas yaitu satu bentuk terapi psikologis. Tetapi pada segi lain, ia menunjuk pada sekelompok terapi psikologis, yaitu suatu rentangan wawasan luas tempat hipnotis pada satu titik dan konseling pada titik lainnya. Dengan demikian, konseling merupakan salah satu bentuk psikoterapi.
2. Konseling lebih berfokus pada konseren, ikhwal, masalah, pengembangan-pendidikan-pencegahan. Sedangkan psikoterapi lebih memokus pada konseren atau masalah penyembuhan-penyesuaian-pengobatan.
3. Konseling dijalankan atas dasar (atau dijiwai oleh) falsafah atau pandangan terhadap manusia, sedangkan psikoterapi dijalankan berdasarkan ilmu atau teori kepribadian dan psikopatologi.
4. Konseling dan psikoterapi berbeda tujuan dan cara mencapainya. Menurut S. Narayana Rao, tujuan psikoterapi adalah mengatasi kelemahan-kelemahan tertentu melalui beberapa cara praktis, mencakup "pembedahan-psikis" (psycho-surgery) dan pembedahan otak. Konselor, pada lain pihak, berurusan dengan identifikasi dan pengembangan kekuatan-kekuatan positif pada indivdu. Ini dilakukan dengan membantu klien untuk menjadi seorang yang berfungsi secara sempurna.
Leslie E. Moser dan Ruth Small Moser berpendapat bahwa konseling terbatas pada pemberian bantuan pemecahan problema pribadi yang tidak sampai pada struktur kepribadian, hanya sampai pada permasalahan hidup kejiwaan yang normal yang berkaitan dengan kehidupan masa kini dan masa datang. Sedangkan psikoterapi bertugas melayani problema kejiwaan yang lebih mendalam lagi (inner-life problems). Sementara Orval H. Mowrer, membedakan pada tugas pokok keduanya. Konseling memecahkan persoalan hidup kejiwaan yang masih pada tingkat normal, yang disebabkan oleh perasaan frustasi yang disadari oleh klien, sedangkan psikoterapi menyembuhkan perasaan cemas yang bersifat mendalam (neurotic anxiety) yang sumber penyebabnya adalah peristiwa-peristiwa masa lalu yang amat menekan dan tidak disadari oleh klien. Sementara Dr. Milton E. Hahn, membedakan dari segi sifat problem yang dialami Klien. Menurutnya, jika persoalan yang dihadapi bersifat normal, pemecahannya menjadi tugas konseling. Sedangkan jika persoalannya bersifat abnormal maka psikoterapi yang bertugas menyembuhkannya. Sedangkan menurut Mohamad Surya perbedaan antara konseling dengan psikoterapi adalah:
1. Konseling umumnya berkenaan dengan orang-orang yang tergolong normal; sedangkan psikoterap terutama berkenaan dengan orang-orang yang mendapat gangguan psikis.
2. Konseling lebih bersifat edukatif, suportif, berorientasi kesadaran, jangka pendek; sedangkan psikoterapi lebih bersifat konstruktif, konfrontif, berorientasi ketidaksadaran, dan jangka panjang.
3. Konseling lebih terstruktur dan terarah kepada tujuan-tujuan yang lebih terbatas dan konkrit; sedangkan psikoterapi lebih luas dan mengarah kepada tujuan yang lebih jauh.
Dari uraian-uraian beberapa pendapat tentang persamaan dan perbedaan antara psikoterapi dan konseling tersebut di atas, maka bisa disimpulkan bahwa pada hakekatnya antara konseling dan psikoterap memiliki pengertian yang sama, yaitu memberikan bantuan kepada seseorang agar timbul perubahan pada diri individu tersebut ke arah yang positif, keduanya saling berkaitan dalam proses pemberian bantuan. Sedangkan jika dilihat dari pelaksanaannya, maka psikoterapi membutuhkan langkah-langkah yang lebih spesifik jika dibandingkan dengan konseling. Sementara jika dilihat dari landasan operasionalnya, konseling lebih didasarkan pada permasalahan-permasalahan pandangan hidup, permasalahan penyesuaian diri, lebih pada pelaksanaan bimbingan dan arahan melalui penanaman pengertian tentang falsafah hidup, pendidikan dan pemahaman lingkungan. Sedangkan psikoterapi didasarkan pada aspek-aspek psikopatologi, penyakit-penyakit kejiwaan yang lebih spesifik, dan membutuhkan langkah-langkah "pembedahan-jiwa" secara lebih spesifik. Konseling menyangkut permasalahan kejiwaan umum yang cenderung bersifat preventif, sedangkan psikoterapi sudah menyangkut permasalahan kejiwaan yang spesifik dan cenderung bersifat kurativ.
Dalam pelaksanaannya, baik bimbingan dan konseling maupun psikoterapi, menggunakan landasan teori dari beberapa landasan filosofis tentang perilaku. Teori-teori itu, sebagaimana yang dikemukakan baik oleh Subandi (2002), Arifin (2003), Surya (2003), dan Willis (2004) adalah: Trait and Factors, Rasional-Emotif, Behavioral, Psikoanalisa, Psikologi Individual, Analisa Transaksional, Client-Centered, dan Gestalt. Pendekatan Meditasi dan Relaksasi, serta yang mutakhir adalah logoterapi. Teori-teori itu diterapkan sesuai dengan orientasinya: Kognitif atau Afektif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar