Oleh: Nashruddin Hilmi, M.Pd.I.
Penyakit-penyakit jiwa, dibagi dalam empat kelompok. Keempat kelompok adalah: Psychoneurotic, psychotic, mentally defective, dan antisocial .
a). Psychoneurotic.
Psychoneuroses merupakan kekacauan kepribadian yang relatif lebih ringan namun meresahkan dan tidak menyenangkan pasien tetapi tidak sampai merusak penyesuaiannya dengan kehidupan sosialnya atau mengganggu aktivitas sehari-harinya sehigga tidak membutuhkan pengawasan atau diharuskan masuk ke rumah sakit jiwa. Ciri-ciri gejala secara umum meliputi: keinginan yang berlebihan, merasa selalu dalam ketegangan, gelisah, selalu merasa kekurangan, ketakutan yang berlebihan, kelelahan yang berlebihan.
Bentuk lain dari psychoneurosis ini, sebagaimana dikemukakan oleh James D. Page dalam bukunya Abnormal Psychology, adalah hysteria (bisa berupa gangguan kontrol anggota tubuh, ketidakmampuan sensorik: hipersensitif, sensasi yang berlebihan; ketidakmampuan motorik: kelumpuhan sebagian anggota badan, tidak mampu berdiri atau berjalan pada posisi tertentu, pergerakan yang hiperaktif, bicara gagap, hilang suara, kulit mengelupas, keringat berlebihan, dsb); anxiety (degup jantung kacau, instabilitas emosi, perasaan rendah diri/kalah, sakit kepala yang sangat, kebingungan, intoleransi, ingin bunuh diri, ketakutan yang aneh, dsb.); neurastenia (adalah akibat perasaan emosional yang berlebihan karena kegagalan memecahkan masalah pribadi, merasa bodoh dan depresi, hilangnya interes, sangat sulit untuk berpikir), obsesive yang luar biasa, compulsvei (tidak mampu mengontrol aktifitas, mengulang-ulang suatu tindakan secara otomatis, seperti mencuci tangan, mengangkat bahu, mengusap wajah seolah-olah selalu ebrdebu, dsb.); pobia (ketakutan yang berlebihan tanpa alasan), trauma, dan sebagainya; Nervouse (sangat mudah resah dan gelisah, sangat menderita, mudah tersinggung dan marah, dsb.); Traumatic (gejala-gejala psychoneuroses yang menyertai sakit fisk yang dialami atau kecelakaan, dsb.)
Termasuk juga dalam kategori ini adalah Hypochondria (kerisauan hati yang dibesar-besarkan atau dilebih-lebihkan pada kesehatan pribadi, merasa yakin betul bahwa dirinya mengidap suatu penyakit yang serius, setiap kesakitan dirasakan sebagai bencana yang hebat, menganggapnya sebagai tragedi yang besar dan bisa menyebabkan kematiannya); Psychosomatisme (bentuk-bentuk penyakit jasmani yang disebabkan oleh kombinasi faktor organis dan psikologis, merupakan kegagalan sistem saraf dan sistem fisik, kecemasan-kecemasan dan gangguan mental), misalnya hipertensi, effort syndrome (merasa sangat kelelahan meski hanya sedikit bekerja, kesulitan bernafas, dan perasaan mau jatuh pingsan), Post Power Syndrome (sindrom purna kuasa); dan Peptic Ulcer (luka pada lambung akibat asam lambung yang terlalu banyak yang disebabkan oleh konflik batin, kegagalan sistem organik akibat gangguan sistem saraf).
Menurut Fahmi, psiko-neurosa ini merupakan penyakit jiwa dalam taraf sebagai gangguan jiwa. Orang yang mengalami psiko-neurosa ini mengalami gejala jiwa yang mempengaruhi perilakunya, namun tidak sampai mengganggu kehidupan dan sosialnya, mereka juga menyadari akan permasalahannya tersebut. Bentuk gangguan ini bersifat lunak dan tidak berbahaya. Dengan demikian, psikoneurosa merupakan bentuk gangguan jiwa berada pada taraf biasa namun bisa mengganggu stabiltas kesehatan fisik. Konsep individu dalam menghadapi kehidupan nampak sangat dominan dalam menciptakan konflik batin yang pada akhirnya menjadi gangguan jiwa.
b) Psychoses
Penyimpangan mental yang mengkhawatirkan yang cenderung menghancur-kan integritas kepribadian dan mengganggu hubungan sosial individu. Bentuk-bentuknya antara lain: Schizophrenia, yaitu gejala-gejala yang muncul meliputi: Penyimpangan emosional: reaksi emosional yang menunjukkan kebencian, bahkan dia tidak mau bergaul atau berhubungan dengan masyarakat umumnya; Halusinasi: merasa mendengar suara-suara atau melihat sesuatu yang bisa diakuinya sebgaai keluarga, teman, atau bahkan Tuhan. ; Gangguan berbicara: ketidakmampuan mengontrol pembicaraannya, antara stimuli dan respon pembicaraan tidak sambung; Kesulitan menulis, menggambar, atau mengkonsentrasikan gerakan tangan; penyimpangan berpikir, tidak bisa fokus, tida bisa mengurutkan sesuatu; kerusakan atau kelemahan intelegensi. Bentuk lain adalah Manic-depressive psychosis, misalnya adalah: Maniac psychomotor activity: perilaku yang sangat berlebihan; ide-ide dan halusinasi yang berlebihan, keinginan-keinginan, gangguan emosionalyang ekstrim, suasana yang terus bergerak antara menangis dan tertawa, sampai pada depresi, sedih, putus asa, dsb. Bentuk berikutnya adalah: Paranoia: bisa mengendalikan diri, akan tetapi pada kondisi-kondisi tertentu ia bisa sangat membahayakan, diantaranya disebabkan karena kegagalan-kegagalan yang dialaminya; alcoholic Mental disorder; penggunaan obat-obatan terlarang, dan Epilepsy. Dengan demikian, psikosa merupakan suatu penyakit mental yang parah, dimana ditandai dengan disorientasi pikiran, gangguan emosional, disorientasi ruang dan waktu, serta pribadi; dan pada beberpa kasus disertai halusinasi dan delusi-delusi.
Dari uraian di atas, bila dibandingkan antara psiko-neurosa dan psikosa, maka kondisi psikosa jauh lebih berat dari pada psiko-neurosa. Perbedaan penting antara psychoneouroses dengan psychoses diantaranya bisa dilihat pada tabel berikut ini:
Psychoneouroes Psychoses
berpikir dengan ucapan wajar, logis dan padu; tidak ada khayalan, halusinasi, dan kebingungan mental berpikir dengan ucapan tidak logis/ tidak bertautan, kebingungan mental, khayalan, dan halusinasi yang dominan
mampu mengendalikan diri baik secara parsial atau sepenuhnya, kondisi diri mendukung; jarang ada kasus bunuh diri tidak mampu mengendalikan diri; sering ada komitmen untuk bunuh diri, wajib dibawa ke rumah sakit jiwa
hubungan dengan kelompok sosial masih bisa bertahan, Perilaku di dalam penyesuaian umum dengan standard masyarakat bisa diterima Kebiasaan sosial hilang; perilaku tidak sesuai dengan standard masyarakat pada umumnya
c) Mental Deficiency
Menurut James D. Page, merupakan kondisi mental di bawah rata-rata normal manusia pada umumnya. Tingkat IQ manusia diklasifikasikan kedalam empat tingkatan, yaitu: Superior, yaitu IQ di atas 130; Bright, yaitu IQ antara 110 - 130; Normal, yaitu IQ antara 90 - 110; Dull, yaitu IQ antara 70 - 90; dan Defectife, yaitu IQ di bawah 70. Kondisi mental di bawah 70 ini merupakan IQ di bawah rata-rata yang diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok, yaitu: Idiocy, yaitu IQ di bawah 20; Imbecility, yaitu IQ antara 20 - 50; dan Moronity, yaitu IQ antara 50 - 60. Sementara IQ antara 60 - 70 juga termasuk dalam kategori Mental Deficiency ini.
d) Antisocial Personalities and Crime
Merupakan perilaku yang anti sosial dan bertindak kriminal. Meliputi: Treason (Pengkhianatan), jenis yang paling jarang dan merupakan kejahatan yang merugikan, misalnya melawan negeri sendiri atau memberi bantuan dan berkhianat untuk membela mush negara; Felonies (kejahatan pidana) adalah kejahatan serius seperti pembunuhan, pemalsuan, penipuan, perampokan, pencurian, dan perkosaan, dapat dihukum mati, hukuman penjara, atau hukuman berat lainnya; dan Misdemeanors (pelanggaran hukum ringan) adalah kejahatan karena kondisi rasa sakit hati. Beberapa contoh misalnya adalah pencurian ringan, mabuk-mabukan, gelandangan, dan sebagainya.
Dari uraian di atas, maka bisa disimpulkan bahwa penyakit jiwa pada umumnya bukanlah penyakit yang bersifat kodrati. Faktor kemampuan manusia dalam mengendalikan diri merupakan faktor utama penyebab penyakit jiwa ini, disamping faktor perkembangan individu sejak kecil dan pengalaman-pengalaman selama hidupnya.
Kamis, 26 Januari 2012
Pengertian Penyakit Kejiwaan; antara Gangguan Kejiwaan dan Sakit Jiwa
Oleh: Nashruddin Hilmi, M.Pd.I.
Antara gangguan kejiwaan dan sakit jiwa, menurut para ahli, tidak berbeda dalam macamnya, tapi pada tingkatnya saja, dimana gangguan kejiwaan lebih ringan dari pada sakit jiwa. Orang yang mengalami gangguan kejiwaan mengetahui kesukarannya atau persoalannya, dalam perilakunya dan kepribadiannya tidak nampak adanya perubahan yang besar, dan mereka pada umumnya bisa hidup pada umumnya di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan orang yang sakit jiwa tidak mengetahui persoalan dirinya dan keadaannya, kepribadiannya dalam berbagai segi (pengenalan, perasaan, dorongan) mengalami kegoncangan dan tidak serasi. Dengan demikian, gangguan jiwa lebih ringan dari pada sakit jiwa.
Menurut Kartini Kartono, pribadi yang normal dengan mental yangs sehat akan bertingkah laku adekuat (serasi, tepat) dan bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya; sikap hidupnya sesuai dengan norma dan pola hidup kelompok masyarakat, sehingga ada relasi interpersonal dan intersosial yang memuaskan. Dalam dirinya terdapat integritas jasmaniah-rokhaniah yang ideal. Kehidupan psikisnya stabil, tidak banyak memendam konflik internal; suasana hatinya tenang dan imbang, jasmaninya selalu sehat. Sementara pribadi abnormal pada umumnya dihinggapi gangguan mental, baik yang tunggal maupun yang ganda, dengan kelainan-kelainan atau abnormalitas pada mentalnya; selalu diliputi banyak konflik batin, jiwanya miskin atau tidak stabil, tidak punya perhatian pada lingkungan sekitar, terpisah hidupnya dari masyarakat, dan selalu merasa gelisah dan takut. Biasanya mereka selalu sakit-sakitan. Pribadi yang abnormal mempunyai atribut: secara relatif mereka jauh dari status integrasi, dan punya atribut "inferior" dan "superior".
Selanjutnya, Kartini Kartono ketika meluruskan pengertian penyakit jiwa menjelaskan bahwa:
a. penyakit jiwa bukanlah penyakit keturunan semata, namun lebih banyak disebabkan oleh tekanan-tekanan batin dan faktor-faktor sosial;
b. penyakit jiwa bukan tidak bisa disembuhkan, kemungkinan kesembuhannya masih bisa diusahakan;
c. penyakit mental tidaklah datang secara tiba-tiba, tapi bibit-bibitnya telah ada sebelumnya, sebab-sebab yang bersifat kompleks dari kejadian-kejadian masa lalu. Misalnya, kematian seorang yang dikasihi, kebangkrutan finansial, dan sebagainya.
d. penyakit mental bukanlah noda hitam dari suatu dosa, sebab penyakit mental merupakan akibat dari sebab-sebab sosial yang lumrah; merupakan produk dari tekanan kehidupan sehari-hari, dan umum terjadi.
e. penyakit mental bukanlah penyakit tunggal, tapi banyak penyebabnya dan saling terkait. Misalnya gangguan psiko-neurosa biasanya bertalian dengan anxiety-neurosis, ketakutan-ketakutan yang riil; reaksi dissosiasi terhadap lingkungan, histeria konversia, fobia-fobia, kompulsif, obsessif, dan sebagainya.
f. seks bukanlah sebab penyakit mental, tapi menjadi salah satu unsur saja. Yang utama adalah perasaan bersalah, ketakutan, ketidak-puasan, yang menyertainya. Perasaan itu sendiri bisa terjadi oleh perilaku-perilaku lain, bukan hanya disebabkan seks.
Dari uraian tersebut bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud penyakit jiwa bukanlah semata kondisi mental yang ditandai perilaku yang "berbeda" dengan orang pada umumnya. Keadaan kalut, gelisah, marah, dan sebagainya, juga merupakan bentuk perilaku jiwa yang abnormal, mengalami gangguan jiwa. Peristiwa-peristiwa yang menimbulkan kekalutan mental perlu diwaspadai karena bisa menjadi penyebab timbulnya penyakit jiwa yang lebih serius.
Antara gangguan kejiwaan dan sakit jiwa, menurut para ahli, tidak berbeda dalam macamnya, tapi pada tingkatnya saja, dimana gangguan kejiwaan lebih ringan dari pada sakit jiwa. Orang yang mengalami gangguan kejiwaan mengetahui kesukarannya atau persoalannya, dalam perilakunya dan kepribadiannya tidak nampak adanya perubahan yang besar, dan mereka pada umumnya bisa hidup pada umumnya di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan orang yang sakit jiwa tidak mengetahui persoalan dirinya dan keadaannya, kepribadiannya dalam berbagai segi (pengenalan, perasaan, dorongan) mengalami kegoncangan dan tidak serasi. Dengan demikian, gangguan jiwa lebih ringan dari pada sakit jiwa.
Menurut Kartini Kartono, pribadi yang normal dengan mental yangs sehat akan bertingkah laku adekuat (serasi, tepat) dan bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya; sikap hidupnya sesuai dengan norma dan pola hidup kelompok masyarakat, sehingga ada relasi interpersonal dan intersosial yang memuaskan. Dalam dirinya terdapat integritas jasmaniah-rokhaniah yang ideal. Kehidupan psikisnya stabil, tidak banyak memendam konflik internal; suasana hatinya tenang dan imbang, jasmaninya selalu sehat. Sementara pribadi abnormal pada umumnya dihinggapi gangguan mental, baik yang tunggal maupun yang ganda, dengan kelainan-kelainan atau abnormalitas pada mentalnya; selalu diliputi banyak konflik batin, jiwanya miskin atau tidak stabil, tidak punya perhatian pada lingkungan sekitar, terpisah hidupnya dari masyarakat, dan selalu merasa gelisah dan takut. Biasanya mereka selalu sakit-sakitan. Pribadi yang abnormal mempunyai atribut: secara relatif mereka jauh dari status integrasi, dan punya atribut "inferior" dan "superior".
Selanjutnya, Kartini Kartono ketika meluruskan pengertian penyakit jiwa menjelaskan bahwa:
a. penyakit jiwa bukanlah penyakit keturunan semata, namun lebih banyak disebabkan oleh tekanan-tekanan batin dan faktor-faktor sosial;
b. penyakit jiwa bukan tidak bisa disembuhkan, kemungkinan kesembuhannya masih bisa diusahakan;
c. penyakit mental tidaklah datang secara tiba-tiba, tapi bibit-bibitnya telah ada sebelumnya, sebab-sebab yang bersifat kompleks dari kejadian-kejadian masa lalu. Misalnya, kematian seorang yang dikasihi, kebangkrutan finansial, dan sebagainya.
d. penyakit mental bukanlah noda hitam dari suatu dosa, sebab penyakit mental merupakan akibat dari sebab-sebab sosial yang lumrah; merupakan produk dari tekanan kehidupan sehari-hari, dan umum terjadi.
e. penyakit mental bukanlah penyakit tunggal, tapi banyak penyebabnya dan saling terkait. Misalnya gangguan psiko-neurosa biasanya bertalian dengan anxiety-neurosis, ketakutan-ketakutan yang riil; reaksi dissosiasi terhadap lingkungan, histeria konversia, fobia-fobia, kompulsif, obsessif, dan sebagainya.
f. seks bukanlah sebab penyakit mental, tapi menjadi salah satu unsur saja. Yang utama adalah perasaan bersalah, ketakutan, ketidak-puasan, yang menyertainya. Perasaan itu sendiri bisa terjadi oleh perilaku-perilaku lain, bukan hanya disebabkan seks.
Dari uraian tersebut bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud penyakit jiwa bukanlah semata kondisi mental yang ditandai perilaku yang "berbeda" dengan orang pada umumnya. Keadaan kalut, gelisah, marah, dan sebagainya, juga merupakan bentuk perilaku jiwa yang abnormal, mengalami gangguan jiwa. Peristiwa-peristiwa yang menimbulkan kekalutan mental perlu diwaspadai karena bisa menjadi penyebab timbulnya penyakit jiwa yang lebih serius.
Urgensi Agama dalam Bimbingan Psikologi dan Terapi Medik
Oleh: Nashruddin Hilmi, M.Pd.I.
Para ahli sependapat bahwa manusia bukanlah makhluk bio-psiko-sosial semata, melainkan juga bio-psiko-spiritual. Pandangan bahwa dimensi spiritual merupakan aspek penting dalam upaya pembentukan manusia modern telah menjadi fenomena global. Pada tahun 1984, Organisasi kesehatan dunia (WHO) dalam sidang umumnya telah merekomendasikan bahwa dimensi spiritual setara pentingnya dengan dimensi-dimensi fisik, psikologik, dan psiko-sosial . Bahkan hubungan antara bidang Psikologi dengan agama ini telah mulai diprogramkan secara formal dan dengan dasar-dasar ilmiah sejak meletusnya perang dunia II pada tahun 1941. Organisasi Kedokteran Jiwa se-Dunia (World Psychiatric Association) dalam Kongres IX di Rio de Janiero, Brazil pada tahun 1993, telah membentuk seksi khusus, yakni "Psychiatry and Religion". Demikian pula Ikatan Dokter Ahli Jiwa Amerika (American Psychiatry Association / APA), sejak tahun 1995 telah membentuk komite khusus: Committe on Psychiatry and Religion.
Pendekatan agama menjadi alternatif yang sangat penting dalam proses terapi medik dan psikoterapis. Di New York ada satu klinik yaitu "Religio-Psychiatric clinic" yang menempatkan agama sebagai peran penting dalam prakteknya. Pemeriksaan dan pengobatan pasien-pasien dilakukan oleh ahli-ahli kedokteran dan ahli-ahli agama bersama-sama . Sementar itu Prof. Dr. C.C. Jung dalam bukunya "Modern man in search of a soul" mengisyaratkan akan arti penting agama dalam ilmu kedokteran. Ia mengatakan, diantara sekalian pasien saya yang tuanya sudah lebih dari separo umur - lebih dari 35 tahun - tidak ada seorangpun yang faktor kejiwaan penyakitnya pada akhirnya tidak berhubungan dengan agama . Sementara Dr. D.B. Larson dalam pelbagai penelitian, menyimpulkan: dalam memandu kesehatan manusia yang serba kompleks ini komitmen agama sebagai sesuatu kekuatan tidak bisa diabaikan .
Lebih lanjut Prof. J.G. Mackenzie menegaskan, "The success of the psychotherapist are achieved not because he has a thorough knowledge of general medicine, nor even because of his knowledge of neurology but in virtue of his pastoral ability". Hasil-hasil baik ahli pengobatan-kejiwaan tidak diperolehnya karena pengetahuannya yang sempurna, tentang ilmu kedokteran umum, malahan juga tidak karena ia ahli dalam ilmu penyakit saraf, melainkan karena kecakapannya di lapangan agama .
Di Florida, Amerika Serikat ada sebuah lembaga penelitian tentang penyembuhan penyakit jiwa melalui daya pengaruh bacaan al-Qur'an dalam berbagai kasus penelitian atau percobaan yang terdiri dari kelompok orang yang mengerti bacaan al-Qur'an dan kelompok yang tidak mengerti bacaan al-Qur'an yang harus mendengarkan bacaan al-Qur'an. Hasilnya, kelompok pertama dapat memperoleh kesembuhan secara bertahap, sedangkan kelompok kedua bisa memperoleh kesembuhan pula tapi tidak seintensif kelompok pertama. Hal ini membuktikan bahwa pendekatan agama sangat berpengaruh dalam bimbingan psikologi.
Dr. Hadfield setelah bertahun-tahun melakukan praktek pengobatan-kejiwaan menyimpulkan, "I have attemted to cure nervous patients with suggestion with quietness and confidence, but without success until I have linked these suggestions on to that faith in the power of God". Saya telah mencoba menyembuhkan penderita kerusakan keseimbangan saraf dengan jalan memberikan dorongan ketenangan dan kepercayaan, tetapi usaha ini baru berhasil baik sesudah ia berhubungan dengan keyakinan akan kekuasaan Tuhan .
Dr. Elmer Hess, seorang ketua Perhimpunan Dokter Amerika tahun 1954 menyatakan, "A physician who walks in to a sick room is not alone. He can only minister to the ailing person with the material tools of medicine - his faith in higher Power does the rest. Show me the doctor who denies the existence of the Supreme Being and I wil say that he has no right to practice the healing art". Seorang dokter yang masuk kamar-sakit tidaklah seorang diri. Ia hanya dapat menolong seorang penderita dengan alat kedokteran - keyakinannya akan Kekuasaan yang lebih tinggi mengerjakan sekalian yang ada. Kemukakanlah seorang dokter yang menyangkal adanya Dzat Yang Maha Tinggi itu maka saya akan katakan bahwa ia tidak berhak mempraktekkan ilmu kedokteran .
Pentingnya faktor agama di bidang psikiatri dan kesehatan jiwa juga bisa dilihat dari pernyataan Prof. Daniel X. Freedman. Menurutnya, di dunia ini ada dua lembaga besar yang berkepentingan dengan kesehatan manusia: profesi kedokteran jiwa dan lembaga keagamaan. Kedua lembaga ini dapat bekerjasama secara konstruktif guna meningkatkan taraf kesejahteraan dan kesehatan jiwa .
Dr. Robert C. Peale, seorang doketr ahli bedah menyatakan manfaat agama, ia mengatakan, "Because of the abdding faith and trust the injured or sick person has in Almighty God, as a surgeon I consistantly see recoveries that were thought imposssible. I also poor results because of an attempted cure by religion or science alone. I am therefore cinvinced that there is a definite and fixed relationship between religion and science and that God has given us both as weapon nite and fixed between religion and against desease and unhappines, but administered together for the benefit of minkind , their possibilities are unlimited". Berkat kepercayaan si luka atau si sakit yang bersangkutan, saya sebagai seorang dokter ahli bedah selalu melihat penyembuhan-penyembuhan yang disangka tidak mungkin. Saya melihat pula hasil-hasil yang tidak menyenangkan karena percobaan penyembuhan dengan agama saja atau dengan ilmu pengetahuan saja. Oleh karena itu saya berkeyakinan bahwa ada hubungan yang pasti dan tetap antara agama dan ilmu pengetahuan, dan Tuhan telah memberikan kepada kita kedua-duanya sebagai senjata untuk melawan penyakit dan kesedihan. Bila kedua-duanya dipakai bersama-sama untuk kepentingan manusia, maka kemungkinan-kemungkinan - akan hasil yang baik - tidak ada batasnya . Di Lourdes, jelas dirasakan bahwa terjadi penurunan keberhasilan pengobatan dikarenakan penderita yang datang bukan lagi orang-orang yang khusyu' dalam beragama . Hal ini mengindikasikan bahwa agama memiliki peran penting dalam keberhasilan suatu pengobatan medis.
Sementara itu, Dadang Hawari mengatakan bahwa terapi psikologi religius berupa do'a dan dzikir memegang peran penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit . Fenomena yang saat ini kita lihat, khususnya di Indonesia adalah bahwa masyarakat sudah mulai menyadari akan arti penting pendekatan religius ini sebagai salah satu jalan bagi penyembuhan. Munculnya berbagai jama'ah dzikir dalam upaya penyembuhan dan mencapai ketenangan jiwa banyak merebak, misalnya yang dipimpin oleh Ilham Arifin.
Sering dijumpai, bahwa pada saat-saat terakhir hayatnya, keimanan pasien berubah disebabkan persuasi agamawan . Dalam konteks ini bisa diterapkan terapi religius: kematian bagi seorang Muslim tidak perlu dicemaskan karena semua manusia akan mengalaminya. Ketentraman hati dapat diberikan kepada pasien dengan mengingat firman Allah dalam Surat Al-An'am ayat 162.
Artinya:
"Sesungguhnya salatku, ibadahku, dan matiku semata-mata hanya untuk Allah, tuhan Semesta Alam" .
Dari uraian di atas, jelas bahwa pendekatan keagamaan sangat diperlukan dalam kegiatan psikologi atau bimbingan guna menuju kesembuhan pasien di sebuah rumah sakit. Hal ini karena agama merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia.
B. PENYAKIT KEJIWAAN
Pada bagian ini, akan dikemukakan tentang pengertian penyakit jiwa, antara gangguan kejiwaan dan sakit jiwa itu sendiri, serta macam-macam penyakit jiwa.
Para ahli sependapat bahwa manusia bukanlah makhluk bio-psiko-sosial semata, melainkan juga bio-psiko-spiritual. Pandangan bahwa dimensi spiritual merupakan aspek penting dalam upaya pembentukan manusia modern telah menjadi fenomena global. Pada tahun 1984, Organisasi kesehatan dunia (WHO) dalam sidang umumnya telah merekomendasikan bahwa dimensi spiritual setara pentingnya dengan dimensi-dimensi fisik, psikologik, dan psiko-sosial . Bahkan hubungan antara bidang Psikologi dengan agama ini telah mulai diprogramkan secara formal dan dengan dasar-dasar ilmiah sejak meletusnya perang dunia II pada tahun 1941. Organisasi Kedokteran Jiwa se-Dunia (World Psychiatric Association) dalam Kongres IX di Rio de Janiero, Brazil pada tahun 1993, telah membentuk seksi khusus, yakni "Psychiatry and Religion". Demikian pula Ikatan Dokter Ahli Jiwa Amerika (American Psychiatry Association / APA), sejak tahun 1995 telah membentuk komite khusus: Committe on Psychiatry and Religion.
Pendekatan agama menjadi alternatif yang sangat penting dalam proses terapi medik dan psikoterapis. Di New York ada satu klinik yaitu "Religio-Psychiatric clinic" yang menempatkan agama sebagai peran penting dalam prakteknya. Pemeriksaan dan pengobatan pasien-pasien dilakukan oleh ahli-ahli kedokteran dan ahli-ahli agama bersama-sama . Sementar itu Prof. Dr. C.C. Jung dalam bukunya "Modern man in search of a soul" mengisyaratkan akan arti penting agama dalam ilmu kedokteran. Ia mengatakan, diantara sekalian pasien saya yang tuanya sudah lebih dari separo umur - lebih dari 35 tahun - tidak ada seorangpun yang faktor kejiwaan penyakitnya pada akhirnya tidak berhubungan dengan agama . Sementara Dr. D.B. Larson dalam pelbagai penelitian, menyimpulkan: dalam memandu kesehatan manusia yang serba kompleks ini komitmen agama sebagai sesuatu kekuatan tidak bisa diabaikan .
Lebih lanjut Prof. J.G. Mackenzie menegaskan, "The success of the psychotherapist are achieved not because he has a thorough knowledge of general medicine, nor even because of his knowledge of neurology but in virtue of his pastoral ability". Hasil-hasil baik ahli pengobatan-kejiwaan tidak diperolehnya karena pengetahuannya yang sempurna, tentang ilmu kedokteran umum, malahan juga tidak karena ia ahli dalam ilmu penyakit saraf, melainkan karena kecakapannya di lapangan agama .
Di Florida, Amerika Serikat ada sebuah lembaga penelitian tentang penyembuhan penyakit jiwa melalui daya pengaruh bacaan al-Qur'an dalam berbagai kasus penelitian atau percobaan yang terdiri dari kelompok orang yang mengerti bacaan al-Qur'an dan kelompok yang tidak mengerti bacaan al-Qur'an yang harus mendengarkan bacaan al-Qur'an. Hasilnya, kelompok pertama dapat memperoleh kesembuhan secara bertahap, sedangkan kelompok kedua bisa memperoleh kesembuhan pula tapi tidak seintensif kelompok pertama. Hal ini membuktikan bahwa pendekatan agama sangat berpengaruh dalam bimbingan psikologi.
Dr. Hadfield setelah bertahun-tahun melakukan praktek pengobatan-kejiwaan menyimpulkan, "I have attemted to cure nervous patients with suggestion with quietness and confidence, but without success until I have linked these suggestions on to that faith in the power of God". Saya telah mencoba menyembuhkan penderita kerusakan keseimbangan saraf dengan jalan memberikan dorongan ketenangan dan kepercayaan, tetapi usaha ini baru berhasil baik sesudah ia berhubungan dengan keyakinan akan kekuasaan Tuhan .
Dr. Elmer Hess, seorang ketua Perhimpunan Dokter Amerika tahun 1954 menyatakan, "A physician who walks in to a sick room is not alone. He can only minister to the ailing person with the material tools of medicine - his faith in higher Power does the rest. Show me the doctor who denies the existence of the Supreme Being and I wil say that he has no right to practice the healing art". Seorang dokter yang masuk kamar-sakit tidaklah seorang diri. Ia hanya dapat menolong seorang penderita dengan alat kedokteran - keyakinannya akan Kekuasaan yang lebih tinggi mengerjakan sekalian yang ada. Kemukakanlah seorang dokter yang menyangkal adanya Dzat Yang Maha Tinggi itu maka saya akan katakan bahwa ia tidak berhak mempraktekkan ilmu kedokteran .
Pentingnya faktor agama di bidang psikiatri dan kesehatan jiwa juga bisa dilihat dari pernyataan Prof. Daniel X. Freedman. Menurutnya, di dunia ini ada dua lembaga besar yang berkepentingan dengan kesehatan manusia: profesi kedokteran jiwa dan lembaga keagamaan. Kedua lembaga ini dapat bekerjasama secara konstruktif guna meningkatkan taraf kesejahteraan dan kesehatan jiwa .
Dr. Robert C. Peale, seorang doketr ahli bedah menyatakan manfaat agama, ia mengatakan, "Because of the abdding faith and trust the injured or sick person has in Almighty God, as a surgeon I consistantly see recoveries that were thought imposssible. I also poor results because of an attempted cure by religion or science alone. I am therefore cinvinced that there is a definite and fixed relationship between religion and science and that God has given us both as weapon nite and fixed between religion and against desease and unhappines, but administered together for the benefit of minkind , their possibilities are unlimited". Berkat kepercayaan si luka atau si sakit yang bersangkutan, saya sebagai seorang dokter ahli bedah selalu melihat penyembuhan-penyembuhan yang disangka tidak mungkin. Saya melihat pula hasil-hasil yang tidak menyenangkan karena percobaan penyembuhan dengan agama saja atau dengan ilmu pengetahuan saja. Oleh karena itu saya berkeyakinan bahwa ada hubungan yang pasti dan tetap antara agama dan ilmu pengetahuan, dan Tuhan telah memberikan kepada kita kedua-duanya sebagai senjata untuk melawan penyakit dan kesedihan. Bila kedua-duanya dipakai bersama-sama untuk kepentingan manusia, maka kemungkinan-kemungkinan - akan hasil yang baik - tidak ada batasnya . Di Lourdes, jelas dirasakan bahwa terjadi penurunan keberhasilan pengobatan dikarenakan penderita yang datang bukan lagi orang-orang yang khusyu' dalam beragama . Hal ini mengindikasikan bahwa agama memiliki peran penting dalam keberhasilan suatu pengobatan medis.
Sementara itu, Dadang Hawari mengatakan bahwa terapi psikologi religius berupa do'a dan dzikir memegang peran penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit . Fenomena yang saat ini kita lihat, khususnya di Indonesia adalah bahwa masyarakat sudah mulai menyadari akan arti penting pendekatan religius ini sebagai salah satu jalan bagi penyembuhan. Munculnya berbagai jama'ah dzikir dalam upaya penyembuhan dan mencapai ketenangan jiwa banyak merebak, misalnya yang dipimpin oleh Ilham Arifin.
Sering dijumpai, bahwa pada saat-saat terakhir hayatnya, keimanan pasien berubah disebabkan persuasi agamawan . Dalam konteks ini bisa diterapkan terapi religius: kematian bagi seorang Muslim tidak perlu dicemaskan karena semua manusia akan mengalaminya. Ketentraman hati dapat diberikan kepada pasien dengan mengingat firman Allah dalam Surat Al-An'am ayat 162.
Artinya:
"Sesungguhnya salatku, ibadahku, dan matiku semata-mata hanya untuk Allah, tuhan Semesta Alam" .
Dari uraian di atas, jelas bahwa pendekatan keagamaan sangat diperlukan dalam kegiatan psikologi atau bimbingan guna menuju kesembuhan pasien di sebuah rumah sakit. Hal ini karena agama merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia.
B. PENYAKIT KEJIWAAN
Pada bagian ini, akan dikemukakan tentang pengertian penyakit jiwa, antara gangguan kejiwaan dan sakit jiwa itu sendiri, serta macam-macam penyakit jiwa.
Bimbingan Psikologi bagi Pasien; Hubungan antara Aspek Fisik dan Psikis
Oleh: Nashruddin Hilmi, M.Pd.I.
Bimbingan Psikologi sangat penting dilakukan di setiap rumah sakit. Seseorang yang sakit secara fisik secara otomatis akan mempengaruhi kondisi psikisnya. Kondisi fisik yang terganggu jelas akan berpengaruh terhadap sirkulasi peredaran darah dan mengarah pada stabilitas kondisi psikis. Sejak pertengahan abad 20, para ilmuwan kimia organik, secara berturut-turut, telah menemukan bahwa setiap kekuatan akal, emosi, dan perilaku yang kita pelajari sekarang - yang disebut dengan gejala psikologis, penyakit kejiwaan, dan pikiran - tidak lain merupakan hasil berbagai intervensi dan pengaruh yang bersifat fisikal melalui sejumlah materi biokimiawi. Materi bio kimiawi itu kemudian disaring oleh seluruh sel yang ada dan masuk semuanya ke dalam darah ataupun pembuluh-pembuluh darah. Materi biokimiawi itu mengalir ke seluruh angota tubuh dan segera akan mengekspresikan emosi dan perilaku yang kita sebut dengan faktor kejiwaan; baik yang sehat (positif) seperti perasaan gembira, senang, dan lega; ataupun yang sakit (negatif) seperti perasaan marah, takut, gelisah, mengalami halusinasi, dan merasa teralienasi . Di sinilah letak penyebab mengapa orang yang mengalami sakit secara fisik, psikisnyapun akan ikut pula terganggu.
Omar Ali Syah, dalam buku Terapi Sufi mengemukakan, bahwa keadaan lingkungan berpengaruh terhadap jiwa dan kesehatan tubuh. Lingkungan itu telah menyebarkan ion-ion baik positif maupun negatif yang kemudian masuk ke dalam tubuh, menimbulkan situasi kejiwaan. Air terjun, sumber air, air yang mengalir; dengan kata lain, lintasan dan kontak unsur alam organik dengan unsur alam organik lain, akan menghasilkan ion negatif, artinya tidak ada pergesekan, tidak ada panas. Alat-alat listrik, kipas angin, kontak antara akrbon dan lilitan kabel yang berputar mengelilinginya, menimbulkan ion positif, artinya menimbulkan gesekan dan panas. Kesemuanya itu merupakan unsur lingkungan yang menghasilkan ion-ion yang terserap ke dalam tubuh. Dengan demikian, dalam tubuh sebenarnya mengalir ion-ion, positif maupun negatif, yang akan mempengaruhi kondisi psikis dan fisik seseorang. Artinya, kondisi psikis maupun fisik seseorang dipengaruhi juga oleh kondisi fisik lingkungan yang menghasilkan ion-ion dan masuk ke dalam tubuh. Oleh karena itu penciptaan lingkungan yang sehat dan alamiah sangat penting bagi kesehatan fisik dan mental seseorang.
Sejak tahun 60-an, ilmu pengetahuan telah menemukan ratusan materi kimiawi di dalam maupun di luar tubuh. Semuanya berperan dan memunculkan berbagai gejala dan penyakit kejiwaan; semuanya mengalir, mewujud, atau merasuk ke dalam darah. Materi-materi kimiawi itu mengalir ke seluruh anggota tubuh yang segera akan memperlihatkan gejala lahiriah kejiwaan. Dengan demikian, gejala kejiwaan merupakan fenomena psikis maupun fisik yang disebabkan oleh adanya materi-materi kimiawi dalam darah . Artinya, fenomena fisik mempengaruhi keadaan psikis seseorang.
Sebaliknya, adakalanya, seorang yang sakit bukanlah disebabkan oleh suatu penyakit phisik, tapi psikis (psikosomatis). Dari istilah psikosomatis ini, mengisyaratkan adanya hubungan yang erat antara jiwa dan badan yang saling mempengaruhi. Bila badan ditimpa suatu penyakit, jiwa ikut kesusahan. Demikian pula kalau jiwa ditimpa kesulitan maka badan turut menderita . Jadi, seseorang yang nampaknya sakit secara fisik, bisa jadi disebabkan oleh kekacauan psikisnya.
Dadang Hawari menyatakan, modernisasi, industrialisasi, dan kemajuan ilmu pengetahuan-teknologi (iptek) menimbulkan perubahan-perubahan sosial yang sangat cepat. Namun tidak semua orang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan itu sehingga dapat menimbulkan stres. Stres merupakan faktor pencetus penyebab atau akibat dari suatu penyakit. Akibatnya kesehatan fisik dan jiwa orang bersangkutan menurun. Perubahan-perubahan tersebut yang kerap bercorak sekuler telah mengakibatkan dehumanisasi, yaitu menurunnya nilai-nilai kemanusiaan, yang pada gilirannya dapat mengakibatkan seseorang jatuh sakit . Keadaan jiwa yang kacau telah melahirkan berbagai penyakit fisis pada seseorang.
Dalam beberapa puluh tahun terakhir, para ilmuwan yang biasa melakukan penelitian terhadap fungsi-fungsi dari sistem syaraf menemukan bahwa pemikiran, perasaan, dan perilaku merupakan aktifitas kehidupan yang digerakkan oleh aktifitas fisiologis sistem syaraf dan unsur-unsur kimiawi. Di dalam beberapa makhluk hidup yang dibekali sistem syaraf ditemukan pula adanya beberapa pusat syaraf yang berpengaruh terhadap munculnya penyakit, ketakutan, kenikmatan, kemarahan, gerak, serta bentuk-bentuk emosi dan perilaku lainnya. Pusat-pusat syaraf ini disebut dengan kumpulan otak hewani atau otak nabati .
Sementara Alfred Adler, sebagaimana dikemukakan oleh Olga Brody Oller, menekankan bahwa adalah absurd untuk belajar kondisi mental dan pergerakan jasmani secara terpisah tanpa hubungan terhadap seseorang secara utuh. Menurut Oller, tidak ada keraguan bahwa pasien yang tak dapat menyesuaikan diri selalu mengalami berbagai kesulitan dalam menanggulangi suatu penyakit fisik dibanding dengan seseorang yang mampu menyesuaikan diri dengan baik. Dengan demikian, adalah sangat dianjurkan agar perawatan fisik dilakukan bersamaan dengan teknik psychotherapeutic .
Dalam bidang kedokteran kini dikembangkan suatu cabang ilmu baru, yakni "psiko-neuro-endokrinologi". Ilmu ini menjelaskan hubungan antara faktor psikis, sistem persyarafan, dan kelenjar endokrin (sistem hormonal). Jika ketiga sistem tersebut terganggu maka terjadilah penyakit. Karena itu keseimbangan ketiga sistem hormonal amat penting bagi imunitas tubuh.
Virchow menambahkan bahwa pendekatan psikologis ilmiah terhadap permasalahan pribadi yang mungkin muncul pada diri seorang pasien merupakan sesuatu yang sangat penting dan mulia. Menurutnya upaya penyembuhan kekacauan jasmani dapat dihargai hanya ketika faktor emosional diselidiki sebagai tambahan terhadap orang yang sakit secara fisik . Bahkan, menurut Oller, secara statistic bisa diketahui bahwa hampir 50 persen pasien yang membutuhkan pengobatan medis adalah disebabkan oleh permasalahan neurosis . Prof.Dr. Aulia, dalam buku Agama dan Kesehatan Badan / Jiwa mengemukakan bahwa di Amerika pada taun 1957 telah ada hampir dua uluh juta orang yang menderita psikosomatik. Lebih lanjut, dalam berbagai pengalaman praktik kedokterannya, dia banyak menemukan kasus serupa, dimana orang-orang yang datang kepadanya, setelah dilakukan pemeriksaan medis tidak ditemukan adanya penyakit, namun setelah dilakukan pendekatan psikologis, ditemukan adanya permasalahan psikologis yang menyebabkan terganggunya fungsi fisik, menimbulkan penyakit fisik .
Dari uraian di ats, bisa disimpulkan bahwa bimbingan psikologi bagi pasien di rumak sakit merupakan sesuatu yang urgen dilakukan agar terapi penyembuhan bisa secara menyeluruh menyentuh segenap aspek pada diri pasien, baik fisik maupun psikis. Sehingga tercapai tujuan pengobatan, yaitu sehat fisik dan psikis, yang yang seutuhnya.
Bimbingan Psikologi sangat penting dilakukan di setiap rumah sakit. Seseorang yang sakit secara fisik secara otomatis akan mempengaruhi kondisi psikisnya. Kondisi fisik yang terganggu jelas akan berpengaruh terhadap sirkulasi peredaran darah dan mengarah pada stabilitas kondisi psikis. Sejak pertengahan abad 20, para ilmuwan kimia organik, secara berturut-turut, telah menemukan bahwa setiap kekuatan akal, emosi, dan perilaku yang kita pelajari sekarang - yang disebut dengan gejala psikologis, penyakit kejiwaan, dan pikiran - tidak lain merupakan hasil berbagai intervensi dan pengaruh yang bersifat fisikal melalui sejumlah materi biokimiawi. Materi bio kimiawi itu kemudian disaring oleh seluruh sel yang ada dan masuk semuanya ke dalam darah ataupun pembuluh-pembuluh darah. Materi biokimiawi itu mengalir ke seluruh angota tubuh dan segera akan mengekspresikan emosi dan perilaku yang kita sebut dengan faktor kejiwaan; baik yang sehat (positif) seperti perasaan gembira, senang, dan lega; ataupun yang sakit (negatif) seperti perasaan marah, takut, gelisah, mengalami halusinasi, dan merasa teralienasi . Di sinilah letak penyebab mengapa orang yang mengalami sakit secara fisik, psikisnyapun akan ikut pula terganggu.
Omar Ali Syah, dalam buku Terapi Sufi mengemukakan, bahwa keadaan lingkungan berpengaruh terhadap jiwa dan kesehatan tubuh. Lingkungan itu telah menyebarkan ion-ion baik positif maupun negatif yang kemudian masuk ke dalam tubuh, menimbulkan situasi kejiwaan. Air terjun, sumber air, air yang mengalir; dengan kata lain, lintasan dan kontak unsur alam organik dengan unsur alam organik lain, akan menghasilkan ion negatif, artinya tidak ada pergesekan, tidak ada panas. Alat-alat listrik, kipas angin, kontak antara akrbon dan lilitan kabel yang berputar mengelilinginya, menimbulkan ion positif, artinya menimbulkan gesekan dan panas. Kesemuanya itu merupakan unsur lingkungan yang menghasilkan ion-ion yang terserap ke dalam tubuh. Dengan demikian, dalam tubuh sebenarnya mengalir ion-ion, positif maupun negatif, yang akan mempengaruhi kondisi psikis dan fisik seseorang. Artinya, kondisi psikis maupun fisik seseorang dipengaruhi juga oleh kondisi fisik lingkungan yang menghasilkan ion-ion dan masuk ke dalam tubuh. Oleh karena itu penciptaan lingkungan yang sehat dan alamiah sangat penting bagi kesehatan fisik dan mental seseorang.
Sejak tahun 60-an, ilmu pengetahuan telah menemukan ratusan materi kimiawi di dalam maupun di luar tubuh. Semuanya berperan dan memunculkan berbagai gejala dan penyakit kejiwaan; semuanya mengalir, mewujud, atau merasuk ke dalam darah. Materi-materi kimiawi itu mengalir ke seluruh anggota tubuh yang segera akan memperlihatkan gejala lahiriah kejiwaan. Dengan demikian, gejala kejiwaan merupakan fenomena psikis maupun fisik yang disebabkan oleh adanya materi-materi kimiawi dalam darah . Artinya, fenomena fisik mempengaruhi keadaan psikis seseorang.
Sebaliknya, adakalanya, seorang yang sakit bukanlah disebabkan oleh suatu penyakit phisik, tapi psikis (psikosomatis). Dari istilah psikosomatis ini, mengisyaratkan adanya hubungan yang erat antara jiwa dan badan yang saling mempengaruhi. Bila badan ditimpa suatu penyakit, jiwa ikut kesusahan. Demikian pula kalau jiwa ditimpa kesulitan maka badan turut menderita . Jadi, seseorang yang nampaknya sakit secara fisik, bisa jadi disebabkan oleh kekacauan psikisnya.
Dadang Hawari menyatakan, modernisasi, industrialisasi, dan kemajuan ilmu pengetahuan-teknologi (iptek) menimbulkan perubahan-perubahan sosial yang sangat cepat. Namun tidak semua orang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan itu sehingga dapat menimbulkan stres. Stres merupakan faktor pencetus penyebab atau akibat dari suatu penyakit. Akibatnya kesehatan fisik dan jiwa orang bersangkutan menurun. Perubahan-perubahan tersebut yang kerap bercorak sekuler telah mengakibatkan dehumanisasi, yaitu menurunnya nilai-nilai kemanusiaan, yang pada gilirannya dapat mengakibatkan seseorang jatuh sakit . Keadaan jiwa yang kacau telah melahirkan berbagai penyakit fisis pada seseorang.
Dalam beberapa puluh tahun terakhir, para ilmuwan yang biasa melakukan penelitian terhadap fungsi-fungsi dari sistem syaraf menemukan bahwa pemikiran, perasaan, dan perilaku merupakan aktifitas kehidupan yang digerakkan oleh aktifitas fisiologis sistem syaraf dan unsur-unsur kimiawi. Di dalam beberapa makhluk hidup yang dibekali sistem syaraf ditemukan pula adanya beberapa pusat syaraf yang berpengaruh terhadap munculnya penyakit, ketakutan, kenikmatan, kemarahan, gerak, serta bentuk-bentuk emosi dan perilaku lainnya. Pusat-pusat syaraf ini disebut dengan kumpulan otak hewani atau otak nabati .
Sementara Alfred Adler, sebagaimana dikemukakan oleh Olga Brody Oller, menekankan bahwa adalah absurd untuk belajar kondisi mental dan pergerakan jasmani secara terpisah tanpa hubungan terhadap seseorang secara utuh. Menurut Oller, tidak ada keraguan bahwa pasien yang tak dapat menyesuaikan diri selalu mengalami berbagai kesulitan dalam menanggulangi suatu penyakit fisik dibanding dengan seseorang yang mampu menyesuaikan diri dengan baik. Dengan demikian, adalah sangat dianjurkan agar perawatan fisik dilakukan bersamaan dengan teknik psychotherapeutic .
Dalam bidang kedokteran kini dikembangkan suatu cabang ilmu baru, yakni "psiko-neuro-endokrinologi". Ilmu ini menjelaskan hubungan antara faktor psikis, sistem persyarafan, dan kelenjar endokrin (sistem hormonal). Jika ketiga sistem tersebut terganggu maka terjadilah penyakit. Karena itu keseimbangan ketiga sistem hormonal amat penting bagi imunitas tubuh.
Virchow menambahkan bahwa pendekatan psikologis ilmiah terhadap permasalahan pribadi yang mungkin muncul pada diri seorang pasien merupakan sesuatu yang sangat penting dan mulia. Menurutnya upaya penyembuhan kekacauan jasmani dapat dihargai hanya ketika faktor emosional diselidiki sebagai tambahan terhadap orang yang sakit secara fisik . Bahkan, menurut Oller, secara statistic bisa diketahui bahwa hampir 50 persen pasien yang membutuhkan pengobatan medis adalah disebabkan oleh permasalahan neurosis . Prof.Dr. Aulia, dalam buku Agama dan Kesehatan Badan / Jiwa mengemukakan bahwa di Amerika pada taun 1957 telah ada hampir dua uluh juta orang yang menderita psikosomatik. Lebih lanjut, dalam berbagai pengalaman praktik kedokterannya, dia banyak menemukan kasus serupa, dimana orang-orang yang datang kepadanya, setelah dilakukan pemeriksaan medis tidak ditemukan adanya penyakit, namun setelah dilakukan pendekatan psikologis, ditemukan adanya permasalahan psikologis yang menyebabkan terganggunya fungsi fisik, menimbulkan penyakit fisik .
Dari uraian di ats, bisa disimpulkan bahwa bimbingan psikologi bagi pasien di rumak sakit merupakan sesuatu yang urgen dilakukan agar terapi penyembuhan bisa secara menyeluruh menyentuh segenap aspek pada diri pasien, baik fisik maupun psikis. Sehingga tercapai tujuan pengobatan, yaitu sehat fisik dan psikis, yang yang seutuhnya.
Selasa, 27 Juli 2010
KONSEP JIWA
KONSEPSI JIWA DALAM ISLAM
(Kajian atas Teori Muhammad Usman Najati dan Adnan Syarif)
Oleh: Nashruddin Hilmi, M.Pd.I.
A. PENDAHULUAN
Psikologi berusaha menelaah gejala-gejala jiwa manusia melalui pola perilaku yang muncul. Perilaku yang positif mencerminkan jiwa yang sehat, sementara perilaku negatif mencerminkan jiwa yang sebaliknya, negatif. Pola perilaku yang muncul merupakan sesuatu yang menarik untuk dikaji karena menjadi dasar utama dalam mengkaji gejala-gejala kejiwaan yang ada. Namun yang tidak kalah menariknya adalah kajian tentang hakekat jiwa itu sendiri.
Banyak sekali konsepsi jiwa yang dikemukakan oleh para ahli. Namun tidak banyak yang berusaha untuk mengkaji konsepsi jiwa dalam perspektif Islam yang bersumber al-Qur’an dan as-Sunnah. Padahal, sebagai sumber ajaran agama yang memiliki nilai-nilai luhur dan transenden, Islam memiliki konsepsi jiwa yang sangat menarik dan bahkan sebagai umat Islam akan mengakuinya sebagai sebuah kebenaran hakiki.
Namun yang menjadi permasalahan adalah bahwa dalam al-Qur’an sendiri, istilah-istilah yang tersurat maupun tersirat tentang aspek psikis memerlukan sebuah kajian intens dan mendalam agar mampu membedakan berbagai istilah yang ada. Dalam al-Qur’an disebutkan istilah an-nafs, al-qalb, al-‘aql,dan ar-ruh. Istilah-istilah ini sering disebutkan dalam al-Qur’an dan harus menjadi perhatian guna membentuk pribadi yang lurus dan konsisten (baik).
Kajian tentang istilah-istilah tersebut sangat penting agar kita mampu mengkaji sesuatu yang menjadi sumber (sebab) munculnya berbagai perilaku manusia. Sumber inilah yang harus dikuasai pemahamannya agar mampu ditata dan dikendalikan dengan baik guna mendapatkan pribadi yang mendekati insan kamil sebagaimana harapan agar mampu mencontoh pribadi Rasulullah SAW.
Kajian singkat ini berusaha menemukan benang merah antara pendapat Muhammad Usman Najatid an Adnan Syarif. Kajian ini menjadi menarik karena keduanya memiliki perspektif yang berbeda. Perlu adanya sebuah diskusi guna mendapatkan satu pemahaman alternatif yang diharapkan mampu menjembatani keduanya.
B. TELAAH TEORITIS
Meskipun berdasar pada satu ajaran, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah, para ahli berbeda pendapat dalam memandang jiwa manusia. Diantara para ahli yang mengemukakan pendapatnya adalah Muhammad Usman Najati dan Adnan Syarif.
1. Jiwa Sebagai Sebuah Dorongan
Muhammad Usman Najati dalam al-Qur’an dan Psikologi mengemukakan bahwa jiwa merupakan dorongan-dorongan yang menjadikan manusia bisa beraktifitas. Dorongan-dorongan ini mempengaruhi setiap gerak perilaku manusia.
Dalam al-qur’an dorongan-dorongan tingkah laku itu diantaranya adalah:
Dorongan Fisiologis
- Dorongan menjaga diri
Dorongan ini berfungsi untuk menjaga diri, misalnya: makan, minum, berpakaian, lelah, panas, dingin, rasa sakit, dan bernafas
7. Yang Telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, (al-Infithar: 7)
155. Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (al-Baqarah: 155)
- Dorongan kelestarian keturunan
Manusia dilengkapi dengan dorongan untuk mempertahankan kelestarian keturunannya melalui dua dorongan:
a. Dorongan seksual
189. Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami terraasuk orang-orang yang bersyukur". (al-A’raf: 189)
b. Dorongan keibuan (maternal drive)
10. Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa[1114]. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak kami teguhkan hati- nya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). (al-Qashash: 10)
[1114] setelah ibu Musa menghanyutkan Musa di sungai Nil, Maka timbullah penyesalan dan kesangsian hatinya lantaran kekhawatiran atas keselamatan Musa bahkan hampir-hampir ia berteriak meminta tolong kepada orang untuk mengambil anaknya itu kembali, yang akan mengakibatkan terbukanya rahasia bahwa Musa adalah anaknya sendiri.
Dorongan Psikis dan Spiritual
- Dorongan psikis
Psikolog modern menamakan juga dorongan psikososia. Di satu sisi individu memiliki dorongan untuk memenuhi kebutuhan individu, namun di sisi lain ia hidup di tengah-tengah individu-individu secara sosial. Misalnya, rasa memiliki, penghargaan, kehormatan, berkelompok, rasa memusuhi, berkompetisi, dan lain-lain.
20. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning Kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (al-Hadid: 20)
148. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (al-Baqarah: 148)
- Dorongan spiritual
Dorongan yang berhubungan dengan aspek spiritual, seperti beragama, taqwa, cinta kebajikan, kebenaran dan keadilan.
Sebagaimana hadits Rosululloh SAW:
Semua anak dilahirkan membawa (potensi) fitrah keberagamaan yang benar....
Dorongan bawah sadar
Merupakan dorongan yang tidak bisa diterima baik oleh norma, akal, maupun nurani yang seringkali menimbulkan kegelisahan akibat dorongan itu dijauhkan dari wilayah perasaan dan kesadarannya. Dorongan ini bisa muncul sewaktu-waktu atau tetap menjadi rahasia individu dimana Allah SWT menutupinya atau membukanya.
29. Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka ?
30. Dan kalau kami kehendaki, niscaya kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu. (Muhammad: 29-30)
Konflik antar dorongan
Konflik terjadi manakala ada dua dorongan atau lebih yang saling bertentangan. Terkadang salah satu mengalahkan yang lain, terkadang individu tidak mampu menentukan sehingga menimbulkan keraguan dalam jiwa.
45. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari Kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, Karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya. (at-Taubah: 45)
10. Dan kami Telah menunjukkan kepadanya dua jalan[1578], (al-Balad: 10)
[1578] yang dimaksud dengan dua jalan ialah jalan kebajikan dan jalan kejahatan.
Mengendalikan dorongan
Dorongan-dorongan yang muncul bisa menjadi sesuatu yang positif, sebaliknya pula bisa menjadi negatif bila berlebihan. Kemampuan untuk mengendalikan dorongan inilah yang akan menyelamatkan manusia dari kerusakan kehidupannya. Pengendalian ini misalnya, makan, minum, berpakaian, seksual, eksplorasi alam, sikap hidup, dan sebagainya.
87. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang Telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (al-Maidah: 87)
Penyimpangan dorongan
Dorongan merupakan hal yang harus ada dalam kehidupan individu. Namun manakala dorongan itu tidak mampu dikendalikan, bahkan tenggelam dalam pemenuhan dorongan, dan justru menjadikannya sebagai tujuan, maka indovidu telah berada dalam kekuasaan dorongannya sendiri. Individu tersebut tidak mampu lagi mengendalikan dorongannya bahkan tenggelam di dalamnya.
29. Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya[852] Karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (al-Isra’: 29)
[852] Maksudnya: jangan kamu terlalu kikir, dan jangan pula terlalu Pemurah.
2. Darah adalah Jiwa/Nafs
Adnan Syarif dalam Psikologi Qur’ani menjelaskan bahwa nafs memiliki tiga pengertian:
a) Nafs adalah Dzat Allah
12. Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi." Katakanlah: "Kepunyaan Allah." dia Telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang[462]. dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman[463]. (al-An’am: 12)
[462] Maksudnya: Allah Telah berjanji sebagai kemurahan-Nya akan melimpahkan rahmat kepada mahluk-Nya.
[463] Maksudnya: orang-orang yang tidak menggunakan akal-fikirannya, tidak mau beriman.
Jika demikian, maka tidak ada hak bagi kita untuk mempelajari nafs ini. Dzat Allah SWT adalah sesuatu yang transenden dan tidak bisa kita pikirkan.
b) Nafs adalah ruh
27. Hai jiwa yang tenang.
28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. (al-Fajr: 27-28)
Jika demikian, kita tidak bisa pula membahas nafs dalam arti ruh ini.
85. Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (al-Isra’: 85)
c) Nafs adalah Makhluk yang Memiliki Karakter
Dengan demikian memiliki ciri-ciri:
1) Sebagai makhluk maka ia juga berwujud dan pasti mengalami kehancuran.
185. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (ali Imran: 185)
2) Sebagai makhluk yang memiliki sifat dzalim (aniaya).
23. Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya Pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (al-A’raf: 23)
3) Sebagai makhluk yang mengajak kepada kejahatan namun juga bisa mendapatkan rahmat-Nya..
53. Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang. (Yusuf: 53)
4) Sebagai makhluk yang memiliki sifat merendah dan takut
205. Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (al-A’raf: 205)
Dari uraian tentang pengertian nafs sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an, Adnan Syarif menyimpulkan bahwa medan kajian psikologi (jiwa) tidak berada pada pengertian pertama dan kedua, melainkan pada pengertian yang ke tiga, yaitu makhluk yang memiliki eksistensi yang istimewa dan khusus. Dalam hal ini adalah darah.
Kesimpulan ini didasarkan pada beberapa kamus bahasa arab yang mengartikan nafs sebagai darah. Istilah imro’atun nufasaa’ yang berarti wanita yang baru melahirkan. Juga didasarkan kepada sebuah hadits Rosululloh SAW:
“Sesuatu yang tidak memiliki darah (an-nafs as-sa’ilah) itu tidak akan mengotori air jika ia mati di dalamnya. Sebaliknya, segala sesuatu yang memiliki darah (an-nafs as-sa’ilah), jika mati di dalam bejana akan mengotorinya” (HR. An-Nakh’iy)
Sejak pertengahan abad 20, para ilmuwan kimia organik, secara berturut-turut, telah menemukan bahwa setiap kekuatan akal, emosi, dan perilaku (gejala psikologis, kejiwaan, dan pikiran) tidak lain merupakan hasil berbagai intervensi dan pengaruh yang bersifat fisikal melalui sejumlah materi biokimiawi. Materi biokimiawi itu kemudian disaring oleh seluruh sel yang ada dan masuk semuanya ke dalam darah atau pembuluh-pembuluh darah.
Sejak permulaan tahun 60-an, ilmu pengetahuan telah menemukan ratusan materi kimiawi di dalam maupun di luar tubuh. Semuanya berperan dalam memunculkan berbagai gejala dan penyakit kejiwaan; semuanya mengalir, mewujud, atau merasuk ke dalam darah. Pertanyaannya adalah, apakah agar memiliki jiwa yang sehat bisa dilakukan dengan cara membersihkan atau mengubah darah?
Tidaklah mudah untuk melakukan hal tersebut. Materi-materi kimiawi yang menyebabkan timbulnya gejala-gejala kejiwaan disaring oleh kelenjar buntu dan berbagai macam pusat saraf yang mengalirkan materi-materi ini di dalam darah. Dengan demikian, darah merupakan tempat menetap dan menyimpan ratusan materi kimiawi yang dihasilkan dari berbagai macam bagian tubuh seperti alat pencernaan, kelenjar buntu, sel-sel syaraf yang tersebar di berbagai anggota tubuh dan otak.
Hubungan Jiwa dengan Tubuh, Akal, dan Ruh
Jiwa bukanlah jasad. Jasad, tubuh, atau badan adalah tempat jiwa (darah). Darah yang mengekspresikan segala pengaruh, gejala dan perilaku manusia. Otak yang mampu berpikir dan berakal merupakan alat untuk berpikir. Akallah yang harus menjadi panutan dan penguasa atas jiwa dan gerak-geriknya. Jika tidak, akal akan dikendalikan oleh jiwa (hawa nafsu).
Sementara ruh (nyawa), yang merupakan sesuatu yang menjadi urusan Allah SWT, dan makhluk ciptaan-Nya yang hanya memiliki eksistensi ruhaniah semata serta merupakan salah satu rahasia Allah SWT, adalah “alat kehidupan” bagi setiap makhluk. Jika akal tidak mampu mengendalikan nafsu (jiwa), jasad tidak akan tenang dan mempengaruhi pula ketenangan ruh ini.
C. DISKUSI
Dari uraian kedua pendapat di atas, Najati lebih menekankan bahwa jiwa merupakan sesuatu yang abstrak (psikis) yaitu sebuah tenaga/dorongan, sedangkan Adnan Syarif berusaha memberikan pengertian yang lebih kongkrit dengan mengatakan bahwa jiwa adalah sesuatu yang nampak (pisis) yaitu darah. Namun demikian, penggunaan istilah biokimiawi sebagai unsur yang mempengaruhi darah tetap saja membawa pada sesuatu yang sulit diamati oleh inderawi biasa (mendekati abstrak) dan cenderung psikis pula. Namun, Adnan Syarif nampaknya lebih berusaha agar permasalahan kejiwaan ini bisa didekati secara fisiologis sebagai salah satu alternatif dalam pemecahan masalah-masalah psikis. Di sini, Adnan syarif berusaha melegitimasi adanya langkah-langkah fisiologis (pengobatan fisik) dalam mengatasi permasalahan kejiwaan. Langkah penanganan yang seperti ini biasanya dilakukan oleh seorang Psikiater yang tidak saja menguasai masalah-masalah psikologis, tapi juga masalah-masalah pengobatan fisik (kedokteran).
Najati dalam memberikan alternatif guna mengatasi permasalahan kejiwaan lebih menekankan pada kemampuan akal agar tidak terbawa oleh arus dorongan-dorongan yang tidak terkendali. Sedangkan Adnan Syarif menambahkan bahwa tidak sekedar akal guna mengatasi permasalahan kejiwaan, namun ada hal-hal fisiologis (biokimiawi) yang harus pula mendapatkan perhatian. Namun yang menjadi permasalahan berikutnya adalah bahwa keduanya mengabaikan aspek al-Qalb. Padahal dalam al-Qur’an, al-Qalb juga merupakan istilah yang tidak bisa diabaikan sebagai salah satu unsur psikologis yang membentuk perilaku manusia.
Al-Qalb dalam al-Qur’an
1) al-Qalb itu di dalam dada (ash-Shadr)
125. Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya[503], niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (al-An’am: 125)
[503] disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, Karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat.
Sebuah kata mutiara mengatakan bahwa ilmu itu di dada (ash-shadr), bukan di buku tulis (ash-shutr)
2) al-Qalb membutuhkan petunjuk dan bisa dirubah (pasif).
11. Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (at-Taghabun: 11)
110. Dan (begitu pula) kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat. (al-An’am: 110)
3) al-Qalb bisa terkena penyakit dan bisa bersikap kasar
52. Dan kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana,
53. Agar dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat. (al-Hajj: 52-53)
4) al-Qalb bisa dibentuk melalui pembiasaan terus menerus
12. Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa,
13. Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu"
14. Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.
15. Sekali-kali tidak[1563], Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka. (al-Muthoffifin: 12-15)
[1563] Maksudnya: sekali-kali tidak seperti apa yang mereka katakan bahwa mereka dekat pada sisi Allah.
5) al-Qalb bisa membeku dan mati (tidak bisa dirubah)
100. Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau kami menghendaki tentu kami azab mereka Karena dosa-dosanya; dan kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)? (al-A’raaf: 100)
6) al-Qalb bisa tenang dengan senantiasa mengingat Allah SWT
28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (ar-Ra’du: 28)
7) al-Qalb bisa menjadi sumber ketaqwaan jika senantiasa diajak oleh badan untuk beribadah
32. Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah[990], Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (al-Hajj: 32)
[990] Syi'ar Allah ialah: segala amalan yang dilakukan dalam rangka ibadat haji dan tempat-tempat mengerjakannya.
Fungsi al-Qalb secara Fisiologis
Secara fisik, hati berbentuk gumpalan darah yang letaknya menempel pada organ tubuh lain.
“aku halalkan dua bangkai dan dua darah: bangkai ikan dan belalang, serta hati dan limpa”
Darah yang menempel/menggantung dalam al-Qur’an disebut juga ‘alaq.
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (al-‘Alaq: 2)
14. Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. (al-Mu’minun: 14)
Hati merupakan organ yang berfungsi merombak sel darah merah yang telah berumur 120 hari. Ini penting dilakukan agar sel darah merah tetap berada pada kondisi baik. Sel darah merah berfungsi mengangkut O2 ke dalam tubuh dan mengeluarkan CO2 dari dalam tubuh. Hati yang tidak berfungsi dengan baik tidak akan bisa merombak sel-sel darah merah yang sudah udzur umurnya. Fungsi sebagai pemasok O2 tidak berfungsi dengan baik, sebaliknya fungsi pengangkut CO2 ke luar tubuh juga tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya, tubuh tidak akan mendapatkan O2 secara optimal. Padahal O2 ini sangat dibutuhkan oleh tubuh dengan kualitas yang terbaik. Di sisi lain, CO2 yang beracun akan menumpuk di dalam darah.
Sel darah merah yang sudah dirombak oleh hati akan mengalir ke empedu yang salah satu fungsinya adalah sebagai dzat yang membantu dalam pencernaan makanan di dalam usus halus. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa kualitas sari pati makanan yang diserap oleh tubuh juga ditentukan oleh kualitas hati sebagai organ yang memproduksi zat yang berguna dalam proses pencernaan makanan.
Dengan demikian, hati memiliki peran penting dalam menentukan kualitas darah dan tubuh manusia. Dari fungsi ini nampak sekali adanya logika ilmiah bahwa hati telah berfungsi sejak pertama kali manusia berwujud karena menjadi salah satu organ terpenting dalam menentukan kualitas dan sirkulasi darah serta kualitas pertumbuhan tubuh manusia itu sendiri.
Jika Adnan Syarif mengatakan bahwa kondisi darah menentukan sikap dan perilaku manusia, maka hati menjadi unsur terpenting dalam turut menentukan kualitas darah baik secara fisiologis maupun psikologis. Meskipun tidak sepenuhnya bahwa ketika seseorang mengalami gangguan kejiwaan, maka mengganti hati atau menyembuhkan hati secara medis bisa menjadi alternatif penyembuhan jiwa manusia. Karena, sebagaimana diuraikan oleh Adnan Syarif, bahwa sirkulasi darah tidak saja dipengaruhi hati, tapi juga oleh organ-organ lainnya. Pun pula bahwa hati juga menjadi penentu kualitas pertumbuhan tubuh manusia.
Hubungan antara Jasad, Nafs, Ruh, Aql dengan Qalb
Keterkaitan antara jasad, nafs, ruh, dan aql telah diuraikan di atas. Sedangkan jika dikaitkan dengan fungsi qalb, maka qalb menempati posisi yang sangat penting dalam menentukan kualitas nafs (darah) dan pertumbuhan jasad. Aql menjadi bagian yang senantiasa melakukan evaluasi, memberikan konklusi, dan solusi dalam menghadapi berbagai permasalahan yang muncul. Aql membuat keputusan yang menjadi perintah bagi seluruh anggota tubuh agar melaksanakannya. Aql yang tidak mampu menemukan keputusan secara tepat akan memberikan perintah yang tidak tepat pula. Aql yang tidak mampu membimbing seluruh aspek individu ke arah yang tepat (fitri) akan menimbulkan masalah ketidakharmonisan. Di satu sisi, bagian-bagian yang ada (ruh, qalb, dan jasad – maupun aql sendiri) memiliki potensi fitri. Namun di sisi lain, jika aql menyimpang dari jalur fitri ini, yang timbul adalah ketidakharmonisan dan dis-sinkronisasi gerak dan arah antara gerak aql dengan qalb, ruh, dan nafs dan jasad. Bahkan bisa terjadi distinegrasi sampai pada taraf malfungsi pada tiap-tiap bagian yang ada tersebut.
Bagi qalb, aql yang tidak mampu membuat keputusan secara tepat dan fitri, akan menimbulkan ketidaksesuaian arah. Situasi qalb menjadi tidak stabil. Pertentangan dan pemberontakan terjadi. Hal ini menyebabkan kerja qalb terganggu. Gangguan ini bisa berimbas baik secara fisik maupun psikis. Fungsi qalb secara fisik akan terganggu dan mengacaukan kondisi nafs serta pertumbuhan fisik. Menimbulkan berbagai macam penyakit dan disfungsi anggota tubuh. Artinya, jasad dalam arti keseluruhan badan akan mengalami gangguan.
Bagaimana dengan ruh? Tentu saja ruh akan mengalami hal yang sama. Menempati tempat yang kurang harmonis dan tenggelam pada dimensi-dimensi serta permasalahan insaniyah (nasut) berakibat ruh akan terjebak di dalamnya. Ruh yang demikian, tidak akan bisa mencapai dimensi ketuhanan (lahut). Ruh yang terjebak, ruh yang terkungkung dan tenggelam di dalam dimensi nasut. Jika terus-menerus berada dalam kondisi seperti ini, ruh menjadi kotor, terjerembah, bahkan bisa tertolak. Ruh yang tidak mampu kembali dan menemukan asal dirinya. Padahal ruh adalah dimensi ketuhanan yang melekat pada setiap individu. Ruh adalah Sifat Qowiyyun yang memancar dari-Nya dan menjadi sumber kekuatan setiap makhluk hidup. Jika dimensi ketuhanan ini mengalami pencemaran oleh ulah aql manusia, maka manusia ini berarti bertentangan dengan Tuhannya.
Aql: Kunci Seluruh Aktifitas
Aql adalah anugerah Allah SWT yang luar biasa bagi manusia. Kemampuannya yang melebihi makhluk lain menjadi kunci progresifitas kehidupan umat manusia. Kemampuannya yang luar biasa telah mampu menyerap Ilmu Allah SWT. Meskipun sangat sedikit, namun ilmu itu telah membawa pada peradaban yang luar biasa dalam kehidupan umat manusia. Aql adalah kunci gerak hidup umat manusia.
Aql adalah kunci awal sebuah aktifitas yang akan sambung menyambung dengan aktifitas lain sebagai sebuah rangkaian sebab akibat. Namun, aql pula yang bisa menjadi kunci penghambat bahkan penghalang rentetan sebab akibat itu. Sebuah keputusan aql di sebuah awal gerak langkah manusia akan menjadi kunci awal pembuka aktifitas qalb, nafs, jasad, dan ruh dalam seorang individu. Keputusan aql yang salah (bertentangan dengan fitrah) pada awal sebuah langkah individu dalam menghadapi masalah (fenomena), akan berakibat ketidakharmonisan gerak qalb, nafs, jasad, dan ruh individu tersebut. Ketidakharmonisan segenap dimensi ini akan kembali mempengaruhi keputusan aql pada permasalahan berikutnya yang menjadi akibat permasalahan (fenomena) awal tadi. Begitu akan terjadi seterusnya sebagai sebuah rangkaian sebab akibat. Jika aql sepanjang hidup tidak mampu mengambil keputusan secara tepat dan mandiri, maka rangkaian permasalahan sebagai sebuah sebab akibat akan berlangsung selamanya, sepanjang hidup individu tersebut. Jika ternyata awalnya sudah salah, makan akan muncul rentetan kesalahan-kesalahan di masa-masa berikutnya. Namun jika benar, maka akan muncul rentetan kebenarab-kebenaran di masa-masa berikutnya.Namun, jika aql pada suatu saat mampu mengambil keputusan secara tepat dan mandiri tanpa terpengaruh oleh situasi dan kondisi qalb, jasad, nafs, dan ruh, maka bisa jadi rentetan sebab akibat itu akan berhenti. Babak baru yang tidak terpengaruh oleh kondisi sebelumnya akan dimulai lagi.
Aql dipengaruhi oleh keluasan dan kedalaman dalam memahami informasi yang ada. Semua informasi ini akan menjadi bekal guna diolah menjadi sebuah keputusan yang tepat. Namun, aql juga dipengaruhi oleh situasi dan kondisi qalb, nafs, jasad, dan ruh individu. Suatu kondisi yang dialami oleh qalb, nafs, jasad, dan ruh, bisa jadi tidak berasal dari hasil keputusan aqlnya sendiri. Misalnya, badan yang terpukul. Kondisi ini bukanlah disebabkan oleh aktifitas aqlnya sendiri. Namun sebaliknya, aliran nafs yang kacau akibat pukulan, berimbas pada kondisi qalb, menciptakan sistim situasi yang kacau akibat kondisi ini tidak sesuai dengan fitrah. Sistim situasi yang kacau akan mempengaruhi aql. Aql yang sudah terpengaruh oleh kondisi negatif tersebut akan mengambil keputusan berdasarkan situasi yang diterimanya, yaitu keputusan negatif, dan akan terus menjadi sebuah sebab akibat.
D. SIMPULAN
Ruh yang tenang adalah ruh yang senantiasa berada dan terpelihara dalam dimensi lahut (ilahiyah). Karena pada hakekatnya ruh adalah bagian dari Allah SWT. Ruh yang demikian berada pada individu yang mampu membebaskan diri dari sifat-sifat nasut (insaniyah-jasadiyah). Memiliki konsepsi hidup yang tenang dan mengarah hanya kepada Yang Transenden.
Konsepsi hidup yang tenang dan transenden tidak bisa dilepaskan dari ketenangan hati yang berpengaruh kepada kesehatan nafs (sirkulasi darah) yang baik dan bersih serta sistim pencernaan yang baik.
Ketenangan qalb ditentukan oleh kemampuan aql untuk bisa mengolah, mengatur, mengambil keputusan, mengevaluasi segala tindakan secara tepat dan baik. Kemampuan ini didasarkan pada keluasan ilmu pengetahuan, pengalaman hidup, serta kebijakaksanaan dalam mengambil langkah. Aql yang “sempit” tidak akan mampu mengambil keputusan secara tepat sesuai dengan logika dan fakta yang ada. Inilah yang disebut bertentangan dengan Yang Transenden. Ketidakmampuan ini akan mempengaruhi kinerja qalb sehingga mempengaruhi kinerja organ tubuh dan syaraf-syaraf pikir yang ada. Dengan demikian, antara ruh, jasad, nafs, qalb dan aql memiliki keterkaitan yang sangat erat. Ketika kesemuanya secara serasi menuju memiliki keterkaitan yang sangat erat. Ketika kesemuanya secara serasi menuju ke Yang Transenden, maka keharmonisan individu akan tercermin sebagai individu yang paripurna.
==========000Bilaurain000=========
(Kajian atas Teori Muhammad Usman Najati dan Adnan Syarif)
Oleh: Nashruddin Hilmi, M.Pd.I.
A. PENDAHULUAN
Psikologi berusaha menelaah gejala-gejala jiwa manusia melalui pola perilaku yang muncul. Perilaku yang positif mencerminkan jiwa yang sehat, sementara perilaku negatif mencerminkan jiwa yang sebaliknya, negatif. Pola perilaku yang muncul merupakan sesuatu yang menarik untuk dikaji karena menjadi dasar utama dalam mengkaji gejala-gejala kejiwaan yang ada. Namun yang tidak kalah menariknya adalah kajian tentang hakekat jiwa itu sendiri.
Banyak sekali konsepsi jiwa yang dikemukakan oleh para ahli. Namun tidak banyak yang berusaha untuk mengkaji konsepsi jiwa dalam perspektif Islam yang bersumber al-Qur’an dan as-Sunnah. Padahal, sebagai sumber ajaran agama yang memiliki nilai-nilai luhur dan transenden, Islam memiliki konsepsi jiwa yang sangat menarik dan bahkan sebagai umat Islam akan mengakuinya sebagai sebuah kebenaran hakiki.
Namun yang menjadi permasalahan adalah bahwa dalam al-Qur’an sendiri, istilah-istilah yang tersurat maupun tersirat tentang aspek psikis memerlukan sebuah kajian intens dan mendalam agar mampu membedakan berbagai istilah yang ada. Dalam al-Qur’an disebutkan istilah an-nafs, al-qalb, al-‘aql,dan ar-ruh. Istilah-istilah ini sering disebutkan dalam al-Qur’an dan harus menjadi perhatian guna membentuk pribadi yang lurus dan konsisten (baik).
Kajian tentang istilah-istilah tersebut sangat penting agar kita mampu mengkaji sesuatu yang menjadi sumber (sebab) munculnya berbagai perilaku manusia. Sumber inilah yang harus dikuasai pemahamannya agar mampu ditata dan dikendalikan dengan baik guna mendapatkan pribadi yang mendekati insan kamil sebagaimana harapan agar mampu mencontoh pribadi Rasulullah SAW.
Kajian singkat ini berusaha menemukan benang merah antara pendapat Muhammad Usman Najatid an Adnan Syarif. Kajian ini menjadi menarik karena keduanya memiliki perspektif yang berbeda. Perlu adanya sebuah diskusi guna mendapatkan satu pemahaman alternatif yang diharapkan mampu menjembatani keduanya.
B. TELAAH TEORITIS
Meskipun berdasar pada satu ajaran, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah, para ahli berbeda pendapat dalam memandang jiwa manusia. Diantara para ahli yang mengemukakan pendapatnya adalah Muhammad Usman Najati dan Adnan Syarif.
1. Jiwa Sebagai Sebuah Dorongan
Muhammad Usman Najati dalam al-Qur’an dan Psikologi mengemukakan bahwa jiwa merupakan dorongan-dorongan yang menjadikan manusia bisa beraktifitas. Dorongan-dorongan ini mempengaruhi setiap gerak perilaku manusia.
Dalam al-qur’an dorongan-dorongan tingkah laku itu diantaranya adalah:
Dorongan Fisiologis
- Dorongan menjaga diri
Dorongan ini berfungsi untuk menjaga diri, misalnya: makan, minum, berpakaian, lelah, panas, dingin, rasa sakit, dan bernafas
7. Yang Telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, (al-Infithar: 7)
155. Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (al-Baqarah: 155)
- Dorongan kelestarian keturunan
Manusia dilengkapi dengan dorongan untuk mempertahankan kelestarian keturunannya melalui dua dorongan:
a. Dorongan seksual
189. Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami terraasuk orang-orang yang bersyukur". (al-A’raf: 189)
b. Dorongan keibuan (maternal drive)
10. Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa[1114]. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak kami teguhkan hati- nya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). (al-Qashash: 10)
[1114] setelah ibu Musa menghanyutkan Musa di sungai Nil, Maka timbullah penyesalan dan kesangsian hatinya lantaran kekhawatiran atas keselamatan Musa bahkan hampir-hampir ia berteriak meminta tolong kepada orang untuk mengambil anaknya itu kembali, yang akan mengakibatkan terbukanya rahasia bahwa Musa adalah anaknya sendiri.
Dorongan Psikis dan Spiritual
- Dorongan psikis
Psikolog modern menamakan juga dorongan psikososia. Di satu sisi individu memiliki dorongan untuk memenuhi kebutuhan individu, namun di sisi lain ia hidup di tengah-tengah individu-individu secara sosial. Misalnya, rasa memiliki, penghargaan, kehormatan, berkelompok, rasa memusuhi, berkompetisi, dan lain-lain.
20. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning Kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (al-Hadid: 20)
148. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (al-Baqarah: 148)
- Dorongan spiritual
Dorongan yang berhubungan dengan aspek spiritual, seperti beragama, taqwa, cinta kebajikan, kebenaran dan keadilan.
Sebagaimana hadits Rosululloh SAW:
Semua anak dilahirkan membawa (potensi) fitrah keberagamaan yang benar....
Dorongan bawah sadar
Merupakan dorongan yang tidak bisa diterima baik oleh norma, akal, maupun nurani yang seringkali menimbulkan kegelisahan akibat dorongan itu dijauhkan dari wilayah perasaan dan kesadarannya. Dorongan ini bisa muncul sewaktu-waktu atau tetap menjadi rahasia individu dimana Allah SWT menutupinya atau membukanya.
29. Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka ?
30. Dan kalau kami kehendaki, niscaya kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu. (Muhammad: 29-30)
Konflik antar dorongan
Konflik terjadi manakala ada dua dorongan atau lebih yang saling bertentangan. Terkadang salah satu mengalahkan yang lain, terkadang individu tidak mampu menentukan sehingga menimbulkan keraguan dalam jiwa.
45. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari Kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, Karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya. (at-Taubah: 45)
10. Dan kami Telah menunjukkan kepadanya dua jalan[1578], (al-Balad: 10)
[1578] yang dimaksud dengan dua jalan ialah jalan kebajikan dan jalan kejahatan.
Mengendalikan dorongan
Dorongan-dorongan yang muncul bisa menjadi sesuatu yang positif, sebaliknya pula bisa menjadi negatif bila berlebihan. Kemampuan untuk mengendalikan dorongan inilah yang akan menyelamatkan manusia dari kerusakan kehidupannya. Pengendalian ini misalnya, makan, minum, berpakaian, seksual, eksplorasi alam, sikap hidup, dan sebagainya.
87. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang Telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (al-Maidah: 87)
Penyimpangan dorongan
Dorongan merupakan hal yang harus ada dalam kehidupan individu. Namun manakala dorongan itu tidak mampu dikendalikan, bahkan tenggelam dalam pemenuhan dorongan, dan justru menjadikannya sebagai tujuan, maka indovidu telah berada dalam kekuasaan dorongannya sendiri. Individu tersebut tidak mampu lagi mengendalikan dorongannya bahkan tenggelam di dalamnya.
29. Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya[852] Karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (al-Isra’: 29)
[852] Maksudnya: jangan kamu terlalu kikir, dan jangan pula terlalu Pemurah.
2. Darah adalah Jiwa/Nafs
Adnan Syarif dalam Psikologi Qur’ani menjelaskan bahwa nafs memiliki tiga pengertian:
a) Nafs adalah Dzat Allah
12. Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi." Katakanlah: "Kepunyaan Allah." dia Telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang[462]. dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman[463]. (al-An’am: 12)
[462] Maksudnya: Allah Telah berjanji sebagai kemurahan-Nya akan melimpahkan rahmat kepada mahluk-Nya.
[463] Maksudnya: orang-orang yang tidak menggunakan akal-fikirannya, tidak mau beriman.
Jika demikian, maka tidak ada hak bagi kita untuk mempelajari nafs ini. Dzat Allah SWT adalah sesuatu yang transenden dan tidak bisa kita pikirkan.
b) Nafs adalah ruh
27. Hai jiwa yang tenang.
28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. (al-Fajr: 27-28)
Jika demikian, kita tidak bisa pula membahas nafs dalam arti ruh ini.
85. Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (al-Isra’: 85)
c) Nafs adalah Makhluk yang Memiliki Karakter
Dengan demikian memiliki ciri-ciri:
1) Sebagai makhluk maka ia juga berwujud dan pasti mengalami kehancuran.
185. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (ali Imran: 185)
2) Sebagai makhluk yang memiliki sifat dzalim (aniaya).
23. Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya Pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (al-A’raf: 23)
3) Sebagai makhluk yang mengajak kepada kejahatan namun juga bisa mendapatkan rahmat-Nya..
53. Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang. (Yusuf: 53)
4) Sebagai makhluk yang memiliki sifat merendah dan takut
205. Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (al-A’raf: 205)
Dari uraian tentang pengertian nafs sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an, Adnan Syarif menyimpulkan bahwa medan kajian psikologi (jiwa) tidak berada pada pengertian pertama dan kedua, melainkan pada pengertian yang ke tiga, yaitu makhluk yang memiliki eksistensi yang istimewa dan khusus. Dalam hal ini adalah darah.
Kesimpulan ini didasarkan pada beberapa kamus bahasa arab yang mengartikan nafs sebagai darah. Istilah imro’atun nufasaa’ yang berarti wanita yang baru melahirkan. Juga didasarkan kepada sebuah hadits Rosululloh SAW:
“Sesuatu yang tidak memiliki darah (an-nafs as-sa’ilah) itu tidak akan mengotori air jika ia mati di dalamnya. Sebaliknya, segala sesuatu yang memiliki darah (an-nafs as-sa’ilah), jika mati di dalam bejana akan mengotorinya” (HR. An-Nakh’iy)
Sejak pertengahan abad 20, para ilmuwan kimia organik, secara berturut-turut, telah menemukan bahwa setiap kekuatan akal, emosi, dan perilaku (gejala psikologis, kejiwaan, dan pikiran) tidak lain merupakan hasil berbagai intervensi dan pengaruh yang bersifat fisikal melalui sejumlah materi biokimiawi. Materi biokimiawi itu kemudian disaring oleh seluruh sel yang ada dan masuk semuanya ke dalam darah atau pembuluh-pembuluh darah.
Sejak permulaan tahun 60-an, ilmu pengetahuan telah menemukan ratusan materi kimiawi di dalam maupun di luar tubuh. Semuanya berperan dalam memunculkan berbagai gejala dan penyakit kejiwaan; semuanya mengalir, mewujud, atau merasuk ke dalam darah. Pertanyaannya adalah, apakah agar memiliki jiwa yang sehat bisa dilakukan dengan cara membersihkan atau mengubah darah?
Tidaklah mudah untuk melakukan hal tersebut. Materi-materi kimiawi yang menyebabkan timbulnya gejala-gejala kejiwaan disaring oleh kelenjar buntu dan berbagai macam pusat saraf yang mengalirkan materi-materi ini di dalam darah. Dengan demikian, darah merupakan tempat menetap dan menyimpan ratusan materi kimiawi yang dihasilkan dari berbagai macam bagian tubuh seperti alat pencernaan, kelenjar buntu, sel-sel syaraf yang tersebar di berbagai anggota tubuh dan otak.
Hubungan Jiwa dengan Tubuh, Akal, dan Ruh
Jiwa bukanlah jasad. Jasad, tubuh, atau badan adalah tempat jiwa (darah). Darah yang mengekspresikan segala pengaruh, gejala dan perilaku manusia. Otak yang mampu berpikir dan berakal merupakan alat untuk berpikir. Akallah yang harus menjadi panutan dan penguasa atas jiwa dan gerak-geriknya. Jika tidak, akal akan dikendalikan oleh jiwa (hawa nafsu).
Sementara ruh (nyawa), yang merupakan sesuatu yang menjadi urusan Allah SWT, dan makhluk ciptaan-Nya yang hanya memiliki eksistensi ruhaniah semata serta merupakan salah satu rahasia Allah SWT, adalah “alat kehidupan” bagi setiap makhluk. Jika akal tidak mampu mengendalikan nafsu (jiwa), jasad tidak akan tenang dan mempengaruhi pula ketenangan ruh ini.
C. DISKUSI
Dari uraian kedua pendapat di atas, Najati lebih menekankan bahwa jiwa merupakan sesuatu yang abstrak (psikis) yaitu sebuah tenaga/dorongan, sedangkan Adnan Syarif berusaha memberikan pengertian yang lebih kongkrit dengan mengatakan bahwa jiwa adalah sesuatu yang nampak (pisis) yaitu darah. Namun demikian, penggunaan istilah biokimiawi sebagai unsur yang mempengaruhi darah tetap saja membawa pada sesuatu yang sulit diamati oleh inderawi biasa (mendekati abstrak) dan cenderung psikis pula. Namun, Adnan Syarif nampaknya lebih berusaha agar permasalahan kejiwaan ini bisa didekati secara fisiologis sebagai salah satu alternatif dalam pemecahan masalah-masalah psikis. Di sini, Adnan syarif berusaha melegitimasi adanya langkah-langkah fisiologis (pengobatan fisik) dalam mengatasi permasalahan kejiwaan. Langkah penanganan yang seperti ini biasanya dilakukan oleh seorang Psikiater yang tidak saja menguasai masalah-masalah psikologis, tapi juga masalah-masalah pengobatan fisik (kedokteran).
Najati dalam memberikan alternatif guna mengatasi permasalahan kejiwaan lebih menekankan pada kemampuan akal agar tidak terbawa oleh arus dorongan-dorongan yang tidak terkendali. Sedangkan Adnan Syarif menambahkan bahwa tidak sekedar akal guna mengatasi permasalahan kejiwaan, namun ada hal-hal fisiologis (biokimiawi) yang harus pula mendapatkan perhatian. Namun yang menjadi permasalahan berikutnya adalah bahwa keduanya mengabaikan aspek al-Qalb. Padahal dalam al-Qur’an, al-Qalb juga merupakan istilah yang tidak bisa diabaikan sebagai salah satu unsur psikologis yang membentuk perilaku manusia.
Al-Qalb dalam al-Qur’an
1) al-Qalb itu di dalam dada (ash-Shadr)
125. Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya[503], niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (al-An’am: 125)
[503] disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, Karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat.
Sebuah kata mutiara mengatakan bahwa ilmu itu di dada (ash-shadr), bukan di buku tulis (ash-shutr)
2) al-Qalb membutuhkan petunjuk dan bisa dirubah (pasif).
11. Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (at-Taghabun: 11)
110. Dan (begitu pula) kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat. (al-An’am: 110)
3) al-Qalb bisa terkena penyakit dan bisa bersikap kasar
52. Dan kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana,
53. Agar dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat. (al-Hajj: 52-53)
4) al-Qalb bisa dibentuk melalui pembiasaan terus menerus
12. Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa,
13. Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu"
14. Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.
15. Sekali-kali tidak[1563], Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka. (al-Muthoffifin: 12-15)
[1563] Maksudnya: sekali-kali tidak seperti apa yang mereka katakan bahwa mereka dekat pada sisi Allah.
5) al-Qalb bisa membeku dan mati (tidak bisa dirubah)
100. Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau kami menghendaki tentu kami azab mereka Karena dosa-dosanya; dan kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)? (al-A’raaf: 100)
6) al-Qalb bisa tenang dengan senantiasa mengingat Allah SWT
28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (ar-Ra’du: 28)
7) al-Qalb bisa menjadi sumber ketaqwaan jika senantiasa diajak oleh badan untuk beribadah
32. Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah[990], Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (al-Hajj: 32)
[990] Syi'ar Allah ialah: segala amalan yang dilakukan dalam rangka ibadat haji dan tempat-tempat mengerjakannya.
Fungsi al-Qalb secara Fisiologis
Secara fisik, hati berbentuk gumpalan darah yang letaknya menempel pada organ tubuh lain.
“aku halalkan dua bangkai dan dua darah: bangkai ikan dan belalang, serta hati dan limpa”
Darah yang menempel/menggantung dalam al-Qur’an disebut juga ‘alaq.
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (al-‘Alaq: 2)
14. Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. (al-Mu’minun: 14)
Hati merupakan organ yang berfungsi merombak sel darah merah yang telah berumur 120 hari. Ini penting dilakukan agar sel darah merah tetap berada pada kondisi baik. Sel darah merah berfungsi mengangkut O2 ke dalam tubuh dan mengeluarkan CO2 dari dalam tubuh. Hati yang tidak berfungsi dengan baik tidak akan bisa merombak sel-sel darah merah yang sudah udzur umurnya. Fungsi sebagai pemasok O2 tidak berfungsi dengan baik, sebaliknya fungsi pengangkut CO2 ke luar tubuh juga tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya, tubuh tidak akan mendapatkan O2 secara optimal. Padahal O2 ini sangat dibutuhkan oleh tubuh dengan kualitas yang terbaik. Di sisi lain, CO2 yang beracun akan menumpuk di dalam darah.
Sel darah merah yang sudah dirombak oleh hati akan mengalir ke empedu yang salah satu fungsinya adalah sebagai dzat yang membantu dalam pencernaan makanan di dalam usus halus. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa kualitas sari pati makanan yang diserap oleh tubuh juga ditentukan oleh kualitas hati sebagai organ yang memproduksi zat yang berguna dalam proses pencernaan makanan.
Dengan demikian, hati memiliki peran penting dalam menentukan kualitas darah dan tubuh manusia. Dari fungsi ini nampak sekali adanya logika ilmiah bahwa hati telah berfungsi sejak pertama kali manusia berwujud karena menjadi salah satu organ terpenting dalam menentukan kualitas dan sirkulasi darah serta kualitas pertumbuhan tubuh manusia itu sendiri.
Jika Adnan Syarif mengatakan bahwa kondisi darah menentukan sikap dan perilaku manusia, maka hati menjadi unsur terpenting dalam turut menentukan kualitas darah baik secara fisiologis maupun psikologis. Meskipun tidak sepenuhnya bahwa ketika seseorang mengalami gangguan kejiwaan, maka mengganti hati atau menyembuhkan hati secara medis bisa menjadi alternatif penyembuhan jiwa manusia. Karena, sebagaimana diuraikan oleh Adnan Syarif, bahwa sirkulasi darah tidak saja dipengaruhi hati, tapi juga oleh organ-organ lainnya. Pun pula bahwa hati juga menjadi penentu kualitas pertumbuhan tubuh manusia.
Hubungan antara Jasad, Nafs, Ruh, Aql dengan Qalb
Keterkaitan antara jasad, nafs, ruh, dan aql telah diuraikan di atas. Sedangkan jika dikaitkan dengan fungsi qalb, maka qalb menempati posisi yang sangat penting dalam menentukan kualitas nafs (darah) dan pertumbuhan jasad. Aql menjadi bagian yang senantiasa melakukan evaluasi, memberikan konklusi, dan solusi dalam menghadapi berbagai permasalahan yang muncul. Aql membuat keputusan yang menjadi perintah bagi seluruh anggota tubuh agar melaksanakannya. Aql yang tidak mampu menemukan keputusan secara tepat akan memberikan perintah yang tidak tepat pula. Aql yang tidak mampu membimbing seluruh aspek individu ke arah yang tepat (fitri) akan menimbulkan masalah ketidakharmonisan. Di satu sisi, bagian-bagian yang ada (ruh, qalb, dan jasad – maupun aql sendiri) memiliki potensi fitri. Namun di sisi lain, jika aql menyimpang dari jalur fitri ini, yang timbul adalah ketidakharmonisan dan dis-sinkronisasi gerak dan arah antara gerak aql dengan qalb, ruh, dan nafs dan jasad. Bahkan bisa terjadi distinegrasi sampai pada taraf malfungsi pada tiap-tiap bagian yang ada tersebut.
Bagi qalb, aql yang tidak mampu membuat keputusan secara tepat dan fitri, akan menimbulkan ketidaksesuaian arah. Situasi qalb menjadi tidak stabil. Pertentangan dan pemberontakan terjadi. Hal ini menyebabkan kerja qalb terganggu. Gangguan ini bisa berimbas baik secara fisik maupun psikis. Fungsi qalb secara fisik akan terganggu dan mengacaukan kondisi nafs serta pertumbuhan fisik. Menimbulkan berbagai macam penyakit dan disfungsi anggota tubuh. Artinya, jasad dalam arti keseluruhan badan akan mengalami gangguan.
Bagaimana dengan ruh? Tentu saja ruh akan mengalami hal yang sama. Menempati tempat yang kurang harmonis dan tenggelam pada dimensi-dimensi serta permasalahan insaniyah (nasut) berakibat ruh akan terjebak di dalamnya. Ruh yang demikian, tidak akan bisa mencapai dimensi ketuhanan (lahut). Ruh yang terjebak, ruh yang terkungkung dan tenggelam di dalam dimensi nasut. Jika terus-menerus berada dalam kondisi seperti ini, ruh menjadi kotor, terjerembah, bahkan bisa tertolak. Ruh yang tidak mampu kembali dan menemukan asal dirinya. Padahal ruh adalah dimensi ketuhanan yang melekat pada setiap individu. Ruh adalah Sifat Qowiyyun yang memancar dari-Nya dan menjadi sumber kekuatan setiap makhluk hidup. Jika dimensi ketuhanan ini mengalami pencemaran oleh ulah aql manusia, maka manusia ini berarti bertentangan dengan Tuhannya.
Aql: Kunci Seluruh Aktifitas
Aql adalah anugerah Allah SWT yang luar biasa bagi manusia. Kemampuannya yang melebihi makhluk lain menjadi kunci progresifitas kehidupan umat manusia. Kemampuannya yang luar biasa telah mampu menyerap Ilmu Allah SWT. Meskipun sangat sedikit, namun ilmu itu telah membawa pada peradaban yang luar biasa dalam kehidupan umat manusia. Aql adalah kunci gerak hidup umat manusia.
Aql adalah kunci awal sebuah aktifitas yang akan sambung menyambung dengan aktifitas lain sebagai sebuah rangkaian sebab akibat. Namun, aql pula yang bisa menjadi kunci penghambat bahkan penghalang rentetan sebab akibat itu. Sebuah keputusan aql di sebuah awal gerak langkah manusia akan menjadi kunci awal pembuka aktifitas qalb, nafs, jasad, dan ruh dalam seorang individu. Keputusan aql yang salah (bertentangan dengan fitrah) pada awal sebuah langkah individu dalam menghadapi masalah (fenomena), akan berakibat ketidakharmonisan gerak qalb, nafs, jasad, dan ruh individu tersebut. Ketidakharmonisan segenap dimensi ini akan kembali mempengaruhi keputusan aql pada permasalahan berikutnya yang menjadi akibat permasalahan (fenomena) awal tadi. Begitu akan terjadi seterusnya sebagai sebuah rangkaian sebab akibat. Jika aql sepanjang hidup tidak mampu mengambil keputusan secara tepat dan mandiri, maka rangkaian permasalahan sebagai sebuah sebab akibat akan berlangsung selamanya, sepanjang hidup individu tersebut. Jika ternyata awalnya sudah salah, makan akan muncul rentetan kesalahan-kesalahan di masa-masa berikutnya. Namun jika benar, maka akan muncul rentetan kebenarab-kebenaran di masa-masa berikutnya.Namun, jika aql pada suatu saat mampu mengambil keputusan secara tepat dan mandiri tanpa terpengaruh oleh situasi dan kondisi qalb, jasad, nafs, dan ruh, maka bisa jadi rentetan sebab akibat itu akan berhenti. Babak baru yang tidak terpengaruh oleh kondisi sebelumnya akan dimulai lagi.
Aql dipengaruhi oleh keluasan dan kedalaman dalam memahami informasi yang ada. Semua informasi ini akan menjadi bekal guna diolah menjadi sebuah keputusan yang tepat. Namun, aql juga dipengaruhi oleh situasi dan kondisi qalb, nafs, jasad, dan ruh individu. Suatu kondisi yang dialami oleh qalb, nafs, jasad, dan ruh, bisa jadi tidak berasal dari hasil keputusan aqlnya sendiri. Misalnya, badan yang terpukul. Kondisi ini bukanlah disebabkan oleh aktifitas aqlnya sendiri. Namun sebaliknya, aliran nafs yang kacau akibat pukulan, berimbas pada kondisi qalb, menciptakan sistim situasi yang kacau akibat kondisi ini tidak sesuai dengan fitrah. Sistim situasi yang kacau akan mempengaruhi aql. Aql yang sudah terpengaruh oleh kondisi negatif tersebut akan mengambil keputusan berdasarkan situasi yang diterimanya, yaitu keputusan negatif, dan akan terus menjadi sebuah sebab akibat.
D. SIMPULAN
Ruh yang tenang adalah ruh yang senantiasa berada dan terpelihara dalam dimensi lahut (ilahiyah). Karena pada hakekatnya ruh adalah bagian dari Allah SWT. Ruh yang demikian berada pada individu yang mampu membebaskan diri dari sifat-sifat nasut (insaniyah-jasadiyah). Memiliki konsepsi hidup yang tenang dan mengarah hanya kepada Yang Transenden.
Konsepsi hidup yang tenang dan transenden tidak bisa dilepaskan dari ketenangan hati yang berpengaruh kepada kesehatan nafs (sirkulasi darah) yang baik dan bersih serta sistim pencernaan yang baik.
Ketenangan qalb ditentukan oleh kemampuan aql untuk bisa mengolah, mengatur, mengambil keputusan, mengevaluasi segala tindakan secara tepat dan baik. Kemampuan ini didasarkan pada keluasan ilmu pengetahuan, pengalaman hidup, serta kebijakaksanaan dalam mengambil langkah. Aql yang “sempit” tidak akan mampu mengambil keputusan secara tepat sesuai dengan logika dan fakta yang ada. Inilah yang disebut bertentangan dengan Yang Transenden. Ketidakmampuan ini akan mempengaruhi kinerja qalb sehingga mempengaruhi kinerja organ tubuh dan syaraf-syaraf pikir yang ada. Dengan demikian, antara ruh, jasad, nafs, qalb dan aql memiliki keterkaitan yang sangat erat. Ketika kesemuanya secara serasi menuju memiliki keterkaitan yang sangat erat. Ketika kesemuanya secara serasi menuju ke Yang Transenden, maka keharmonisan individu akan tercermin sebagai individu yang paripurna.
==========000Bilaurain000=========
Senin, 14 Juni 2010
DZIKIR; MENUJU YANG HAKIKI
MUQADDIMAH
Dimana-mana orang-orang berdzikir. Berbagai nama dan bentuk kegiatan berdzikir di-laksanakan. Bahkan akhir-akhir ini kegiatan berdzikir banyak ditayangkan di televisi. Feno-mena ini menunjukkan bahwa dzikir memiliki posisi penting di hati umat Islam. Suatu kesadaran bahwa segenap aktifitas kehidupan haruslah dibarengi dengan dzikir.
Dzikir adalah inti ibadah, merupakan bagian penting dari segenap aspek religiusitas yang memberikan dampak bagi umat. Berbagai fakta dan pendapat para ulama' dan ilmuwan menunjukkan bahwa kondisi religiusitas seseorang sangat berpengaruh terhadap kehidupannya, baik psikis maupun fisis. Bahkan PBB (WHO) secara tegas merekomendasikan bahwa dimensi psiritual setara dengan dimensi fisik, psikologik dan sosial. Dimensi spiritual merupakan aspek penting dalam rangka membentuk manusia modern.
DZIKIR; SIAPA DIRI KITA?
Dzikir adalah mengingat Allah SWT, Rabb al 'Izzati. Untuk bisa mengingat Allah SWT maka harus mengenal-Nya. Untuk bisa mengenal-Nya maka kita harus mengenal siapa diri kita. Artinya, dzikir berarti menyadari siapa diri kita, untuk selanjutnya mengenal-Nya, mengingat-Nya bahkan "berhadapan" dengan-Nya.
Lalu siapakah diri kita? Marilah kita lihat diri kita, seberapa besar diri kita, seberapa pandai diri kita, seberapa hebat diri kita, apa yang kita punyai, apa yang kita banggai. Kita amati diri kita dari luar melalui dunia makro kosmos. Mula-mula dari jarak 1 meter. Lalu semakin menjauh, 10 meter, 101 meter, sebesar apa diri kita. Semakin menjauh, 102 meter, 103 meter, 104 meter. Semua tentang kita telah lenyap, bahkan tempat kita berada-pun terlihat seperti titik yang sangat kecil diantara gugusan pulau-pulau. Semakin menjauh, 105 meter, 106 meter, 107 meter, 108 meter dan seterusnya kita semakin menjauh, melampaui batas ukuran tahun cahaya. Kita hanya bisa melihat planet kita, kemudian kita hanya melihat tata surya kita, kita hanya melihat berjuta-juta tata surya, pada akhirnya kita tinggalkan galaksi kita, kita lihat galaksi tempat kita berada, lalu semakin menjauh, kita hanya melihat gugusan galaksi-galaksi, sampai batas kemampuan akhir kita. Pada akhirnya kita hanya bisa bersujud di tengah-tengah jagad raya ciptaan-Nya, dunia makro kosmos yang begitu teratur dalam penciptaannya. Sehingga kita hanya mampu berucap:
"Ya Allah, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia".
Dalam ketakjuban atas segenap fenomena alam yang luar biasa tersebut, terucap kata-kata:
Maha Suci engkau, Ya Allah
Segala puji hanya bagi-Mu semata, Ya Allah
Ya Allah, Engkau Maha Besar
Selanjutnya, pada diri kita akan muncul kesadaran tentang Ta'alluh Allah SWT (Kekuasaan-Nya yang mutlak dalam kepemilikan dan pengaturan seluruh makhluk). Kesadaran yang muncul teriring ucapan:
Tidak ada Tuhan selain Engkau,Ya Allah
Dia adalah wujud yang hak dan hakiki, sedang selain Dia, akan lenyap binasa. Ternyata, diri kita telah lenyap dalam ke-Agungan-Nya. Betapa Allah SWT telah menunjukkan ke-Agungan-Nya melalui ciptaan-Nya. Pada saat itu lenyap kesombongan kita, lenyap ke"AKU"an kita, yang ada hanya Allah SWT.
Kita amati diri kita kembali, ke dalam diri kita melalui dunia mikro kosmos. Mula-mula pada jarak 1 meter, terlihat tubuh kita keseluruhan. Kemudian semakin dekat, pada daging kita, tulang kita. Lalu semakin mendekat pada jarak 0 meter, 1/101 mikron, yang terlihat adalah bahwa tubuh kita merupakan jaringan-jaringan sel. Semakin jauh ke dalam, pada jarak 1/102 mikron, 1/103 mikron, 1/104 mikron, dan seterusnya. Kita temui bahwa diri kita tidak lebih hanya merupakan kumpulan molekul-molekul, lebih jauh lagi, hanya terlihat kumpulan atom-atom, semakin ke dalam lagi pada batas kemampuan mikroskop elektron kita, pada diri kita ternyata hanya terlihat kumpulan proton, elektron dan neutron. Lalu, apakah wujud itu adalah diri kita. Tentu tidak. Karena hanya sampai di sini kemampuan kita, para fisikawan-pun belum mampu menjelaskan apa sebenarnya diri kita dan apa yang membuat kita hidup. Sampai pada batas ini, kita hanya mampu tersungkur dan bersujud, sadar betapa kecilnya diri kita dan betapa besar ke-Agungan Allah SWT. Sekali lagi kita mengucapkan:
Maha Suci engkau, Ya Allah
Segala puji hanya bagi-Mu semata, Ya Allah
Ya Alah, Engkau Maha Besar
Dalam kesadaran terdalam kembali kita berucap:
Tidak ada Tuhan selain Engkau,Ya Allah
DZIKIR; MENUJU YANG HAKIKI
Ketika muncul kesadaran bahwa betapa diri kita tidak ada artinya, maka kita akan dengan suka rela melepaskan segenap dimensi lahiriyah kita. Sadar bahwa yang lahiriyah ternyata bukan diri kita yang sebenarnya. Yang lahiriyah hanyalah tempat kita, yang suatu saat pasti akan kita tinggalkan. Yang pada akhirnya harus kita pertanggungjawabkan penggunaannya di hari kemudian.
Akhirnya, dengan berdzikir, berarti kita berusaha melepaskan diri dari jeratan-jeratan dimensi lahiriyah kita. Kita sucikan hati dan pikiran kita dari segala hal yang bersifat lahiriyah. Kita lepaskan "nasut" kita, sifat lahiriyah kita, menuju "lahut", menuju ke-Ilahian. Bertemu dengan-Nya. Inilah tujuan hidup kita. Jika kita sucikan diri kita, maka kita akan bertemu dengan Yang Maha Suci.
Ketika diri kita telah berada pada puncak kesadaran di atas, maka saat itulah kita yakin bahwa tidak ada sesuatupun yang bisa kita andalkan selain-Nya, keagungan-Nya, ke-Maha Kuasaan-Nya. Kita menghadap kepada-Nya tanpa ada sesuatupun yang menghalangi dan mengotori pikiran serta hati kita. Kepada-Nya kita hidup dan mengabdi, kepada-Nya kita meminta pertolongan, dan kepada-Nya kita akan kembali. Saat itu kita betul-betul berhadapan dan merasa dekat dengan-Nya, sehingga kita bisa berucap:
"Kepada-MU kami menyembah dan kepada-MU kami meminta pertolongan"
Kitapun berucap:
Tidak ada Tuhan selain ENGKAU, Ya Allah
Kalimat ini menuntut adanya suatu kesadaran yang tinggi bahwa kita tengah berdialog dengan-Nya, kita yakini bahwa Dia senantiasa mengawasi kita, dekat dengan kita.
DZIKIR; REORIENTASI TUJUAN HIDUP
Jika pada diri kita telah ada kesadaran tentang Ta'alluh Allah SWT, dan betapa bahwa diri kita dan segenap yang melekat pada diri kita adalah sesuatu yang tidak kekal, akankah kemudian kita meninggalkan seluruh aktifitas dan dimensi fisik kita? Meninggalkan kehidupan duniawi? Tidak!
Berdzikir berarti menyadari akan hakikat diri dan posisi kita yang sebenarnya. Yakni sebagai makhluk yang tiada daya, tiada kekal, hanya mengandalkan ke-Murahan-Nya. Makhluk yang diciptakan untuk mengabdi kepada-Nya. Makhluk yang diciptakan untuk menjadi Khalifah di atas bumi-Nya. Inilah diri kita sebenarnya. Makhluk yang menyadari hakikat dirinya, tujuan dirinya, melaksanakan tugas-tugas duniawiyah tanpa harus terjebak dalam keduniawian tersebut.
Sebenarnya diri kita bernama "abdullah". Sedangkan dunia kita, jabatan kita, kekayaan kita, profesi kita, keluarga kita, dan segala yang melekat dan menjadi identitas diri kita adalah peran-peran yang diberikan oleh Allah SWT semata. Peran yang harus kita jalani sebagai wujud pengabdian kepada-Nya, tanpa melupakan bahwa diri kita sebenarnya adalah "abdullah". Menjadi aktor yang tidak lupa akan dirinya yang sebenarnya, aktor yang tidak terseret pada peran yang dimainkannya.
Jika demikian kesadaran kita, maka kita membutuhkan teladan sebagai pijakan dalam segenap aktifitas kita, Rasulullah SAW. Pada diri Rasul terdapat keseimbangan yang serasi antara kehidupan ruhiyah dan jasadiyahnya, antara kehidupan ukhrowiyah dan duniawiyahnya. Pada dirinya terdapat kesadaran untuk senantiasa mengarahkan diri pada dimensi "lahut" dengan tetap menyadari adanya dimensi "nasut" tanpa harus terjebak di dalamnya.
Dengan kesadaran inilah kita mengucap:
Muhammad adalah utusan-Mu, Ya Allah. Muhammad adalah pembimbing umat manusia dalam menjalani kehidupan duniawi.
Dengan demikian, kehidupan yang kita jalani senantiasa berada pada jalur yang sebenarnya. Bukan jalur yang menyesatkan dan mengarahkan kita pada dimensi jasadiyah semata, dimensi duniawiyah semata. Bukan jalur yang menjerat diri kita sehingga kita tidak mampu keluar dari dimensi jasadiyah, dimensi yang nisbi dan tidak kekal, dimensi yang kosong.
PENUTUP
Dengan berdzikir kita menyadari hakekat diri kita. Dengan berdzikir kita menghadap kepada-Nya. Dengan berdzikir kita perbaiki kembali tujuan hidup yang sebenarnya.
Mungkin dalam setiap nafas dan detak jantung kita berdzikir. Mungkin dalam setiap tindakan kita berdzikir. Mungkin hanya pada setiap ibadah mahdzah kita berdzikir. Bahkan mungkin hanya pada waktu tertentu berdzikir. Bahkan mungkin hanya pada waktu malam menjelang tidur kita berdzikir. Dzikir, berarti belajar menjadi diri yang sebenarnya. Wallahu a'lam bi Ash-Shawaab
Dimana-mana orang-orang berdzikir. Berbagai nama dan bentuk kegiatan berdzikir di-laksanakan. Bahkan akhir-akhir ini kegiatan berdzikir banyak ditayangkan di televisi. Feno-mena ini menunjukkan bahwa dzikir memiliki posisi penting di hati umat Islam. Suatu kesadaran bahwa segenap aktifitas kehidupan haruslah dibarengi dengan dzikir.
Dzikir adalah inti ibadah, merupakan bagian penting dari segenap aspek religiusitas yang memberikan dampak bagi umat. Berbagai fakta dan pendapat para ulama' dan ilmuwan menunjukkan bahwa kondisi religiusitas seseorang sangat berpengaruh terhadap kehidupannya, baik psikis maupun fisis. Bahkan PBB (WHO) secara tegas merekomendasikan bahwa dimensi psiritual setara dengan dimensi fisik, psikologik dan sosial. Dimensi spiritual merupakan aspek penting dalam rangka membentuk manusia modern.
DZIKIR; SIAPA DIRI KITA?
Dzikir adalah mengingat Allah SWT, Rabb al 'Izzati. Untuk bisa mengingat Allah SWT maka harus mengenal-Nya. Untuk bisa mengenal-Nya maka kita harus mengenal siapa diri kita. Artinya, dzikir berarti menyadari siapa diri kita, untuk selanjutnya mengenal-Nya, mengingat-Nya bahkan "berhadapan" dengan-Nya.
Lalu siapakah diri kita? Marilah kita lihat diri kita, seberapa besar diri kita, seberapa pandai diri kita, seberapa hebat diri kita, apa yang kita punyai, apa yang kita banggai. Kita amati diri kita dari luar melalui dunia makro kosmos. Mula-mula dari jarak 1 meter. Lalu semakin menjauh, 10 meter, 101 meter, sebesar apa diri kita. Semakin menjauh, 102 meter, 103 meter, 104 meter. Semua tentang kita telah lenyap, bahkan tempat kita berada-pun terlihat seperti titik yang sangat kecil diantara gugusan pulau-pulau. Semakin menjauh, 105 meter, 106 meter, 107 meter, 108 meter dan seterusnya kita semakin menjauh, melampaui batas ukuran tahun cahaya. Kita hanya bisa melihat planet kita, kemudian kita hanya melihat tata surya kita, kita hanya melihat berjuta-juta tata surya, pada akhirnya kita tinggalkan galaksi kita, kita lihat galaksi tempat kita berada, lalu semakin menjauh, kita hanya melihat gugusan galaksi-galaksi, sampai batas kemampuan akhir kita. Pada akhirnya kita hanya bisa bersujud di tengah-tengah jagad raya ciptaan-Nya, dunia makro kosmos yang begitu teratur dalam penciptaannya. Sehingga kita hanya mampu berucap:
"Ya Allah, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia".
Dalam ketakjuban atas segenap fenomena alam yang luar biasa tersebut, terucap kata-kata:
Maha Suci engkau, Ya Allah
Segala puji hanya bagi-Mu semata, Ya Allah
Ya Allah, Engkau Maha Besar
Selanjutnya, pada diri kita akan muncul kesadaran tentang Ta'alluh Allah SWT (Kekuasaan-Nya yang mutlak dalam kepemilikan dan pengaturan seluruh makhluk). Kesadaran yang muncul teriring ucapan:
Tidak ada Tuhan selain Engkau,Ya Allah
Dia adalah wujud yang hak dan hakiki, sedang selain Dia, akan lenyap binasa. Ternyata, diri kita telah lenyap dalam ke-Agungan-Nya. Betapa Allah SWT telah menunjukkan ke-Agungan-Nya melalui ciptaan-Nya. Pada saat itu lenyap kesombongan kita, lenyap ke"AKU"an kita, yang ada hanya Allah SWT.
Kita amati diri kita kembali, ke dalam diri kita melalui dunia mikro kosmos. Mula-mula pada jarak 1 meter, terlihat tubuh kita keseluruhan. Kemudian semakin dekat, pada daging kita, tulang kita. Lalu semakin mendekat pada jarak 0 meter, 1/101 mikron, yang terlihat adalah bahwa tubuh kita merupakan jaringan-jaringan sel. Semakin jauh ke dalam, pada jarak 1/102 mikron, 1/103 mikron, 1/104 mikron, dan seterusnya. Kita temui bahwa diri kita tidak lebih hanya merupakan kumpulan molekul-molekul, lebih jauh lagi, hanya terlihat kumpulan atom-atom, semakin ke dalam lagi pada batas kemampuan mikroskop elektron kita, pada diri kita ternyata hanya terlihat kumpulan proton, elektron dan neutron. Lalu, apakah wujud itu adalah diri kita. Tentu tidak. Karena hanya sampai di sini kemampuan kita, para fisikawan-pun belum mampu menjelaskan apa sebenarnya diri kita dan apa yang membuat kita hidup. Sampai pada batas ini, kita hanya mampu tersungkur dan bersujud, sadar betapa kecilnya diri kita dan betapa besar ke-Agungan Allah SWT. Sekali lagi kita mengucapkan:
Maha Suci engkau, Ya Allah
Segala puji hanya bagi-Mu semata, Ya Allah
Ya Alah, Engkau Maha Besar
Dalam kesadaran terdalam kembali kita berucap:
Tidak ada Tuhan selain Engkau,Ya Allah
DZIKIR; MENUJU YANG HAKIKI
Ketika muncul kesadaran bahwa betapa diri kita tidak ada artinya, maka kita akan dengan suka rela melepaskan segenap dimensi lahiriyah kita. Sadar bahwa yang lahiriyah ternyata bukan diri kita yang sebenarnya. Yang lahiriyah hanyalah tempat kita, yang suatu saat pasti akan kita tinggalkan. Yang pada akhirnya harus kita pertanggungjawabkan penggunaannya di hari kemudian.
Akhirnya, dengan berdzikir, berarti kita berusaha melepaskan diri dari jeratan-jeratan dimensi lahiriyah kita. Kita sucikan hati dan pikiran kita dari segala hal yang bersifat lahiriyah. Kita lepaskan "nasut" kita, sifat lahiriyah kita, menuju "lahut", menuju ke-Ilahian. Bertemu dengan-Nya. Inilah tujuan hidup kita. Jika kita sucikan diri kita, maka kita akan bertemu dengan Yang Maha Suci.
Ketika diri kita telah berada pada puncak kesadaran di atas, maka saat itulah kita yakin bahwa tidak ada sesuatupun yang bisa kita andalkan selain-Nya, keagungan-Nya, ke-Maha Kuasaan-Nya. Kita menghadap kepada-Nya tanpa ada sesuatupun yang menghalangi dan mengotori pikiran serta hati kita. Kepada-Nya kita hidup dan mengabdi, kepada-Nya kita meminta pertolongan, dan kepada-Nya kita akan kembali. Saat itu kita betul-betul berhadapan dan merasa dekat dengan-Nya, sehingga kita bisa berucap:
"Kepada-MU kami menyembah dan kepada-MU kami meminta pertolongan"
Kitapun berucap:
Tidak ada Tuhan selain ENGKAU, Ya Allah
Kalimat ini menuntut adanya suatu kesadaran yang tinggi bahwa kita tengah berdialog dengan-Nya, kita yakini bahwa Dia senantiasa mengawasi kita, dekat dengan kita.
DZIKIR; REORIENTASI TUJUAN HIDUP
Jika pada diri kita telah ada kesadaran tentang Ta'alluh Allah SWT, dan betapa bahwa diri kita dan segenap yang melekat pada diri kita adalah sesuatu yang tidak kekal, akankah kemudian kita meninggalkan seluruh aktifitas dan dimensi fisik kita? Meninggalkan kehidupan duniawi? Tidak!
Berdzikir berarti menyadari akan hakikat diri dan posisi kita yang sebenarnya. Yakni sebagai makhluk yang tiada daya, tiada kekal, hanya mengandalkan ke-Murahan-Nya. Makhluk yang diciptakan untuk mengabdi kepada-Nya. Makhluk yang diciptakan untuk menjadi Khalifah di atas bumi-Nya. Inilah diri kita sebenarnya. Makhluk yang menyadari hakikat dirinya, tujuan dirinya, melaksanakan tugas-tugas duniawiyah tanpa harus terjebak dalam keduniawian tersebut.
Sebenarnya diri kita bernama "abdullah". Sedangkan dunia kita, jabatan kita, kekayaan kita, profesi kita, keluarga kita, dan segala yang melekat dan menjadi identitas diri kita adalah peran-peran yang diberikan oleh Allah SWT semata. Peran yang harus kita jalani sebagai wujud pengabdian kepada-Nya, tanpa melupakan bahwa diri kita sebenarnya adalah "abdullah". Menjadi aktor yang tidak lupa akan dirinya yang sebenarnya, aktor yang tidak terseret pada peran yang dimainkannya.
Jika demikian kesadaran kita, maka kita membutuhkan teladan sebagai pijakan dalam segenap aktifitas kita, Rasulullah SAW. Pada diri Rasul terdapat keseimbangan yang serasi antara kehidupan ruhiyah dan jasadiyahnya, antara kehidupan ukhrowiyah dan duniawiyahnya. Pada dirinya terdapat kesadaran untuk senantiasa mengarahkan diri pada dimensi "lahut" dengan tetap menyadari adanya dimensi "nasut" tanpa harus terjebak di dalamnya.
Dengan kesadaran inilah kita mengucap:
Muhammad adalah utusan-Mu, Ya Allah. Muhammad adalah pembimbing umat manusia dalam menjalani kehidupan duniawi.
Dengan demikian, kehidupan yang kita jalani senantiasa berada pada jalur yang sebenarnya. Bukan jalur yang menyesatkan dan mengarahkan kita pada dimensi jasadiyah semata, dimensi duniawiyah semata. Bukan jalur yang menjerat diri kita sehingga kita tidak mampu keluar dari dimensi jasadiyah, dimensi yang nisbi dan tidak kekal, dimensi yang kosong.
PENUTUP
Dengan berdzikir kita menyadari hakekat diri kita. Dengan berdzikir kita menghadap kepada-Nya. Dengan berdzikir kita perbaiki kembali tujuan hidup yang sebenarnya.
Mungkin dalam setiap nafas dan detak jantung kita berdzikir. Mungkin dalam setiap tindakan kita berdzikir. Mungkin hanya pada setiap ibadah mahdzah kita berdzikir. Bahkan mungkin hanya pada waktu tertentu berdzikir. Bahkan mungkin hanya pada waktu malam menjelang tidur kita berdzikir. Dzikir, berarti belajar menjadi diri yang sebenarnya. Wallahu a'lam bi Ash-Shawaab
Jumat, 11 Juni 2010
KONSEP WAHDATU AL-WUJUD
Secara bahasa wahdatul wujud berarti: kesatuan wujud, unity of existence. Merupakan paham yang dibawa oleh Muhiddin Ibnu Arabi (560 H/1165 M - 638 H/1240 M). Paham ini merupakan kelanjutan dari paham lainnya yang terdahulu, karena memiliki dasar konsep filosofis yang sama, yaitu teori emanasi dalam proses penciptaan alam. Jika dihubungkan dengan konsep al-Hallaj dan yang lainnya, boleh dikatakan bahwa pemikiran Ibnu Arabi merupakan puncak konsep tasawuf falsafi yang paling sempurna. Perbedaannya adalah bahwa jika al-Hallaj menggunakan istilah lahut, maka diganti oleh Ibnu Arabi dengan istilah al-Haqq, sedangkan nasut diganti dengan istilah al-Khalq.
Sebagaimana uraian Ibnu Arabi dalam kitab-kitabnya, maka yang pertama-tama harus dipahami dalam konsep Wahdatul Wujud ini adalah bahwa pada mulanya keberadaan Tuhan adalah dalam kesendiriannya yang mutlak. Tidak dikenal dan tidak mempunyai sifat. Keadaan ini disebut “’ama”atau “ahadiat” . Selanjutnya, sebagaimana dijelaskan pula oleh Ibnu Arabi dalam kitab al-futuhat al-Makkiyah, Allah adalah Dzat Yang Awal. Keberadaan yang tidak disebabkan oleh suatu apapun.Tidak ada sesuatupun yang awalbersama-Nya, Dia adal dengan sendiri-Nya, tidak membutuhkan sesuatu apapun selain Dia. Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak berhajat pada alam semesta . Kemudian ia berada dalam keadaan-Nya yang potensialagar dapat terlihat oleh diri-Nya sendiri. Keadaan ini disebut “huwiyyah”. Barulah Ia ingin dikenal dan bertajalli kepada makhluk-Nya dengan menciptakan alam. Keinginan Tuhan untuk dapat melihat dirinya dan agardapat dikenali melalui ciptaan-Nya didasarkan pada Hadits Qudsi: Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal. Maka Kuciptakan makhluk dan merekapun kenal pada-Ku melalui diri-Ku . Dikatakannya juga bahwa adapun yang pertama sekali wujud dari Nur Ilahi ini adalah Nur Muhammad atau Haqiqah Muhammad. Dari padanyalah terbitnya alam ini .
Selanjutnya, dalam proses penciptaan alam semesta ini, sebagaimana dijelaskan Ibnu Arabi dalam Kitab Fusus al-Hikam, melalui tahapan-tahapan yang bisa disimpulkan sebagai berikut:
a. Wujud Tuhan sebagai Wujud Mutlak, yaitu Dzat yang mandiri tanpa disebabkan/ berhajat wujud-Nya kepada sesuatu apapun.
b. Wujud al-Haqiqah al-Muhammad, sebagai emanasi pertama dari Wujud Tuhan, dan dari padanya melimpah wujud-wujud lainnya.
c. Wujud al-‘ayan al-Sabitah (wujud yang ada pada ilmu Tuhan) yang disebut ‘Alam Ma’ani.
d. Realitas-realitas ruhaniah (wujud-wujud ruhani) yang disebut alam arwah.
e. Realitas-realitas an-Nafsityah (wujud-wujud jiwa) yang disebut alam al-Nafs al-Natiqah.
f. Wujud-wujud jasad materi yang disebut dengan ‘Alam al-Misal.
g. Wujud-wujud jasad bermateri yang disebut dengan ‘alam al-Jism al-Madliyah atau ‘Alam al-Syahadah atau ‘Alam al-Hissi .
Secara lebih jelas lihat skema V.
Dari uraian di atas, maka bisa dikatakan bahwa Muhammad SAW adalah prototype alam semesta dan manusia, bahwa Nur Muhammad merupakan cermin alam secara keseluruhan yang masing-masing dapat melihat yang lain. Nur Muhammad merupakan sesuatu yang memancar dari Tuhan sebagai cerminan kesempurnaan-Nya sehingga Ia dapat menampakkan diri . Itulah sebabnya esensi alam ini adalah Tuhan, sedanglahirnya berupa materi hanyalah bayang-bayang, yang sebenarnya tidak ada. Ibnu Arabi menyatakan, sesungguhnya para muqarrabin telah menetapkan bahwa tidak ada wujud yang sesungguhnya dalam alam ini, melainkan Allah. Dan kita meskipun ada, sesungguhnya adanya adalah dengan Dia. Sesuatu yang tergantung wujudnya pada-Nya, sebenarnya sesuatu itu dihukumkan tidak ada. Jadi, adanya makhluk hanyalah bayang-bayang bagi yang punya bayang-bayang dan merupakan gambar dalam cermin dimana wujud yang
diluar cermin jualah yang sebenarnya ada. Oleh karena itu makhluk seluruhnya hanyalah bayang-bayang belaka.
Pendapatnya ini tampak dalam sya’irnya:
Wujud yang hakiki hanyalah wujud Allah, sedangkan wujud makhluk hanyalah bayag-bayang dari yang punya bayag-bayang (Tuhan) atau gambaran dari kaca yang mengaca.
Maka makhluk adalah baying-bayang sedangkan al-Haqq adalah Yang Maha Suci dan makhluk adalah tiruan .
Lebih jauh dikatakan oleh Ibnu Arabi:
Wajah sebenarnya satu, tetapi jika engkau perbanyak cermin, ia menjadi banyak
Senada dengan hal ini adalah ucapan Parmenides
Yang ada itu satu, yangbanyak itu tak ada. Yang kelihatan banyak dengan panca indera adalah ilusi .
Dikatakan juga oleh Ibnu Arabi:
Wahai Pencipta segala sesuatu dalam diri-Mu. Pada-Mu terhimpun segala yang Engkau jadikan. Engkau ciptakan apapun yang ada dengan tak terbatas dalam diri-Mu. Sebab Engkau adalah yang unik meliputi seluruhnya .
Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa teori emanasi dalam proses penciptaan alam telah mengisi dan mendasari system pemikiran Ibnu Arabi, yang menjelaskan bahwa alam ini bersumber dari yang satu, Tuhan. Dalam hal ini nampaknya Ibnu Arabi berusaha menolak adanya teori filsafat yang mengatakan bahwa alam ini berasal dari tiada kepada ada (creatio ex nihilo) sebagaimana pendapat Gorgias. Lebih lanjut, dikatakan oleh Ibnu Arabi, bahwa tidak ada wujud kecuali wujud yang satu (Tuhan). Dengan kata lain tidaklah alam ini dalam bentuknya yang beraneka ragam ini melainkan manifestasi wujud Allah Ta’ala. Dan manifestasi yang paling sempurna adalah Nur Muhammad yang merupakan wujud pertama yang kemudian tercermin sebagai wujud manusia, sebagai Nabi Muhammad yang merupakan Insan Kamil. .
Menurut Ibnu Arabi, manusia harus bisa mencapai derajat Insan Kamil yang merupakan wujud dasarnya. Hal ini bisa dilakukan melalui jalan sebagai berikut:
a. Fana’, yaitu sirna di dalam wujud Tuhan sehingga sang sufi menjadi satu dengan-Nya.
b. Baqa’, yaitu kelanjutan wujud bersama Tuhan sehingga dalam padanya, wujud Tuhanlah pada kesegalaan ini .
Dengan kata lain, seorang sufi bisa mencapai derajat Insan Kamil (sebagai hakekat diri yang sebenarnya) jika benar-benar telah membersihkan dirinya, sehingga yang nampak dalam dirinya adalah aspek al-Haqqnya. Di sini ia telah merasa keluar dari aspek al-Khalqnya. Dalam keadaan demikian ia dapat menjadi penampakan lahir asma Allah SWT, af’al (perbuatan) Allah SWT, dan sifat Allah SWT, bahkan lebih jauh lagi, akan menjadi nampakan lahir wujud Allah SWT .
Namun dalam kenyataan ini, Prof. HA. Rivay Siregar menegaskan bahwa yang dimaksud penyatuan adalah suatu keadaan “bangunnya”jiwa particular serta sadar akan penyatuan yang pada hakekatnya telah ada diantara jiwa particular dengan jiwa universal itu. Sehingga tujuan akhir dari pengalaman mistis dan sasaran akhir dari usaha-usahanya bukanlah untuk menjadi satu dengan Tuhan – karena ia benar-benar telah bersatu, tetapi adalah untuk menyadari makna penyatuan itu. Dari penegasan ini terlihat bahwa manusia tidak pernah menjadi Tuhan dan tidak ada manusia Tuhan. Dengan demikian, maka pengetahuan sufi yang diperoleh melalui pengahayatan esoteris, bukanlah dimaksudkan dalam pengertian riil, tetapi muncul langsung dari jiwa particular itu sendiri . Di sinilah dipahami bahwa Wahdatul Wujud bukanlah penyatuan dalam arti riil/jasmaniah atau universal, tapi particular semata.
Sebagaimana uraian Ibnu Arabi dalam kitab-kitabnya, maka yang pertama-tama harus dipahami dalam konsep Wahdatul Wujud ini adalah bahwa pada mulanya keberadaan Tuhan adalah dalam kesendiriannya yang mutlak. Tidak dikenal dan tidak mempunyai sifat. Keadaan ini disebut “’ama”atau “ahadiat” . Selanjutnya, sebagaimana dijelaskan pula oleh Ibnu Arabi dalam kitab al-futuhat al-Makkiyah, Allah adalah Dzat Yang Awal. Keberadaan yang tidak disebabkan oleh suatu apapun.Tidak ada sesuatupun yang awalbersama-Nya, Dia adal dengan sendiri-Nya, tidak membutuhkan sesuatu apapun selain Dia. Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak berhajat pada alam semesta . Kemudian ia berada dalam keadaan-Nya yang potensialagar dapat terlihat oleh diri-Nya sendiri. Keadaan ini disebut “huwiyyah”. Barulah Ia ingin dikenal dan bertajalli kepada makhluk-Nya dengan menciptakan alam. Keinginan Tuhan untuk dapat melihat dirinya dan agardapat dikenali melalui ciptaan-Nya didasarkan pada Hadits Qudsi: Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal. Maka Kuciptakan makhluk dan merekapun kenal pada-Ku melalui diri-Ku . Dikatakannya juga bahwa adapun yang pertama sekali wujud dari Nur Ilahi ini adalah Nur Muhammad atau Haqiqah Muhammad. Dari padanyalah terbitnya alam ini .
Selanjutnya, dalam proses penciptaan alam semesta ini, sebagaimana dijelaskan Ibnu Arabi dalam Kitab Fusus al-Hikam, melalui tahapan-tahapan yang bisa disimpulkan sebagai berikut:
a. Wujud Tuhan sebagai Wujud Mutlak, yaitu Dzat yang mandiri tanpa disebabkan/ berhajat wujud-Nya kepada sesuatu apapun.
b. Wujud al-Haqiqah al-Muhammad, sebagai emanasi pertama dari Wujud Tuhan, dan dari padanya melimpah wujud-wujud lainnya.
c. Wujud al-‘ayan al-Sabitah (wujud yang ada pada ilmu Tuhan) yang disebut ‘Alam Ma’ani.
d. Realitas-realitas ruhaniah (wujud-wujud ruhani) yang disebut alam arwah.
e. Realitas-realitas an-Nafsityah (wujud-wujud jiwa) yang disebut alam al-Nafs al-Natiqah.
f. Wujud-wujud jasad materi yang disebut dengan ‘Alam al-Misal.
g. Wujud-wujud jasad bermateri yang disebut dengan ‘alam al-Jism al-Madliyah atau ‘Alam al-Syahadah atau ‘Alam al-Hissi .
Secara lebih jelas lihat skema V.
Dari uraian di atas, maka bisa dikatakan bahwa Muhammad SAW adalah prototype alam semesta dan manusia, bahwa Nur Muhammad merupakan cermin alam secara keseluruhan yang masing-masing dapat melihat yang lain. Nur Muhammad merupakan sesuatu yang memancar dari Tuhan sebagai cerminan kesempurnaan-Nya sehingga Ia dapat menampakkan diri . Itulah sebabnya esensi alam ini adalah Tuhan, sedanglahirnya berupa materi hanyalah bayang-bayang, yang sebenarnya tidak ada. Ibnu Arabi menyatakan, sesungguhnya para muqarrabin telah menetapkan bahwa tidak ada wujud yang sesungguhnya dalam alam ini, melainkan Allah. Dan kita meskipun ada, sesungguhnya adanya adalah dengan Dia. Sesuatu yang tergantung wujudnya pada-Nya, sebenarnya sesuatu itu dihukumkan tidak ada. Jadi, adanya makhluk hanyalah bayang-bayang bagi yang punya bayang-bayang dan merupakan gambar dalam cermin dimana wujud yang
diluar cermin jualah yang sebenarnya ada. Oleh karena itu makhluk seluruhnya hanyalah bayang-bayang belaka.
Pendapatnya ini tampak dalam sya’irnya:
Wujud yang hakiki hanyalah wujud Allah, sedangkan wujud makhluk hanyalah bayag-bayang dari yang punya bayag-bayang (Tuhan) atau gambaran dari kaca yang mengaca.
Maka makhluk adalah baying-bayang sedangkan al-Haqq adalah Yang Maha Suci dan makhluk adalah tiruan .
Lebih jauh dikatakan oleh Ibnu Arabi:
Wajah sebenarnya satu, tetapi jika engkau perbanyak cermin, ia menjadi banyak
Senada dengan hal ini adalah ucapan Parmenides
Yang ada itu satu, yangbanyak itu tak ada. Yang kelihatan banyak dengan panca indera adalah ilusi .
Dikatakan juga oleh Ibnu Arabi:
Wahai Pencipta segala sesuatu dalam diri-Mu. Pada-Mu terhimpun segala yang Engkau jadikan. Engkau ciptakan apapun yang ada dengan tak terbatas dalam diri-Mu. Sebab Engkau adalah yang unik meliputi seluruhnya .
Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa teori emanasi dalam proses penciptaan alam telah mengisi dan mendasari system pemikiran Ibnu Arabi, yang menjelaskan bahwa alam ini bersumber dari yang satu, Tuhan. Dalam hal ini nampaknya Ibnu Arabi berusaha menolak adanya teori filsafat yang mengatakan bahwa alam ini berasal dari tiada kepada ada (creatio ex nihilo) sebagaimana pendapat Gorgias. Lebih lanjut, dikatakan oleh Ibnu Arabi, bahwa tidak ada wujud kecuali wujud yang satu (Tuhan). Dengan kata lain tidaklah alam ini dalam bentuknya yang beraneka ragam ini melainkan manifestasi wujud Allah Ta’ala. Dan manifestasi yang paling sempurna adalah Nur Muhammad yang merupakan wujud pertama yang kemudian tercermin sebagai wujud manusia, sebagai Nabi Muhammad yang merupakan Insan Kamil. .
Menurut Ibnu Arabi, manusia harus bisa mencapai derajat Insan Kamil yang merupakan wujud dasarnya. Hal ini bisa dilakukan melalui jalan sebagai berikut:
a. Fana’, yaitu sirna di dalam wujud Tuhan sehingga sang sufi menjadi satu dengan-Nya.
b. Baqa’, yaitu kelanjutan wujud bersama Tuhan sehingga dalam padanya, wujud Tuhanlah pada kesegalaan ini .
Dengan kata lain, seorang sufi bisa mencapai derajat Insan Kamil (sebagai hakekat diri yang sebenarnya) jika benar-benar telah membersihkan dirinya, sehingga yang nampak dalam dirinya adalah aspek al-Haqqnya. Di sini ia telah merasa keluar dari aspek al-Khalqnya. Dalam keadaan demikian ia dapat menjadi penampakan lahir asma Allah SWT, af’al (perbuatan) Allah SWT, dan sifat Allah SWT, bahkan lebih jauh lagi, akan menjadi nampakan lahir wujud Allah SWT .
Namun dalam kenyataan ini, Prof. HA. Rivay Siregar menegaskan bahwa yang dimaksud penyatuan adalah suatu keadaan “bangunnya”jiwa particular serta sadar akan penyatuan yang pada hakekatnya telah ada diantara jiwa particular dengan jiwa universal itu. Sehingga tujuan akhir dari pengalaman mistis dan sasaran akhir dari usaha-usahanya bukanlah untuk menjadi satu dengan Tuhan – karena ia benar-benar telah bersatu, tetapi adalah untuk menyadari makna penyatuan itu. Dari penegasan ini terlihat bahwa manusia tidak pernah menjadi Tuhan dan tidak ada manusia Tuhan. Dengan demikian, maka pengetahuan sufi yang diperoleh melalui pengahayatan esoteris, bukanlah dimaksudkan dalam pengertian riil, tetapi muncul langsung dari jiwa particular itu sendiri . Di sinilah dipahami bahwa Wahdatul Wujud bukanlah penyatuan dalam arti riil/jasmaniah atau universal, tapi particular semata.
Langganan:
Postingan (Atom)